BOJONEGORO, Radar Bojonegoro - Aksi membersihkan eceng gondok di sekitar Jembatan Malo pada Minggu (29/10) lalu dinilai tidak cukup mengatasi permasalahan blooming eceng gondok.
Sehingga aktivis lingkungan mendesak organisasi perangkat daerah (OPD) mengoptimalkan kinerja dan segara mengerahkan alat berat untuk membersihkan.
‘’Pembersihan eceng gondok sekitar Jembatan Malo tidak cukup berdampak untuk mengurangi jumlah eceng gondok di permukaan sungai,’’ ujar Aktivis Lingkungan Putut Prabowo kemarin (2/11).
Menurut Putut, membersihkan eceng gondok dilakukan pada Minggu (29/10) lalu oleh Koalisis Organisasi Lingkungan untuk Bengawan Solo (Kolabs) dan diteruskan oleh Balai Besar Bengawan Solo (BBWS) Bojonegoro tidak memberi dampak besar pada pengurangan jumlah eceng gondok. Lantaran temuan blooming sejak 24 September menyebabkan ketebalan eceng gondok di Sungai Bengawan Solo mencapai 1 meter.
‘’Perlu disadari gerakan masyarakat sipil kemarin tidak dalam rangka mengatasi masalah. Namun, fungsi kontrol upaya menyebarluaskan informasi tentang ancaman kebencanaan ini. Termasuk bahaya eurofikasi atau pencemaran air,’’ ungkapnya.
Namun, ada kendala dalam memasukkan alat berat meliputi kontur atau ketinggian lahan tepian relatif landai dan terhalang lahan warga. Sehingga dibutuhkan koordinasi antara pemerintah desa (pemdes) dengan pemerintah kabupaten (pemkab). Dia menuturkan, lokasi pembuangan eceng gondok juga perlu dipertimbangkan mengingat banyaknya informasi dan pendapat tentang pengolahan limbahnya.
‘’Dibutuhkan rencana aksi yang matang. Termasuk kejelasan jangka waktu dan komandonya. Untuk waktu penerjunan alat berat menunggu hasil rapat internal OPD. Harapannya segera,’’ ujar pria menjabat Ketua Yayasan Adopsi Hutan Jatim tersebut.
Kepala DLH Bojonegoro Dandi Suprayitno menyampaikan, alat berat telah diturunkan pada aksi 29 Oktober lalu. Namun, untuk penanganan selanjutnya masih dalam tahap pembahasan. ‘’Untuk selanjutnya masih dipikirkan skenario yang tepat,’’ bebernya.
Pembahasan dilakukan bersama instansi terkait. Meliputi perhutani, BBWS, perusahaan umum (perum) jasa tirta, kepolisian resor (polres), hingga nongovernment organization (NGO). (yna/msu)
Editor : Hakam Alghivari