Daerah Ekonomi Gemas Haji & Umrah Headline News Internasional Kawan Cilik Kesehatan Kuliner Lentera Islam Mbakyu Nasional Opini Otomotif Pendidikan Peristiwa Persepsi Politik & Pemerintahan Redaksi She Sportainment Tausiah Ramadan Teknologi Weekend Yuk

Eceng Gondok Mengepung Bengawan Solo

Hakam Alghivari • Rabu, 18 Oktober 2023 | 21:35 WIB
PENUH: Tumbuhan eceng gondok masih memenuhi sungai Bengawan Solo di perbatasan Kecamatan Malo dan Gayam. Pertumbuhan masif eceng gondok kerap terjadi saat musim kemarau.
PENUH: Tumbuhan eceng gondok masih memenuhi sungai Bengawan Solo di perbatasan Kecamatan Malo dan Gayam. Pertumbuhan masif eceng gondok kerap terjadi saat musim kemarau.

BOJONEGORO, Radar Bojonegoro - Eceng gondok acap kali mengepung aliran Bengawan Solo saat musim kemarau. Sejak Agustus lalu hingga Selasa  (17/10), sepanjang aliran Bengawan Solo turut Kecamatan Gayam hingga Kecamatan Malo, pertumbuhan eceng gondok semakin masif dan meluas.

Pemandangan tampak hijau itu membuat warga berswafoto dari atas aliran sungai. Namun, jumlah eceng gondok yang terus meningkat setiap tahunnya mendapat atensi dari akademisi dan dinas terkait. Karena diduga terdapat bahaya ekologis dari tumbuhan mengapung itu.

Pengawas lingkungan hidup dari Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Bojonegoro Frika Deddy Sofyan me­ngatakan, meski belum menemukan kajian atau penelitian tentang tingkat bahaya populasi eceng gondok di wilayah sungai Bengawan Solo.

Namun, pihaknya terus mempelajari adanyan tumbuhan itu. ‘’Akan dikoordinasikan dengan balai besar wilayah sungai (BBWS) sebagai pemangku wilayah dan operator,” ungkapnya.

Baca Juga: Bengawan Solo Dipenuhi Eceng Gondok

Ketua Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) Universitas Bojonegoro (Uni­goro) Laily Agustina menjelaskan, meningkatnya sebaran eceng gondok di Bengawan Solo mayoritas bersumber dari aktivitas manusia, seperti limbah pertanian, industri, dan limbah rumah tangga.

‘’Didukung berkurang volume air di musim kemarau, sehingga konsentrasi bahan organik di perairan akan semakin meningkat,” terangnya kemarin (17/10).

Menurutnya, meski tumbuhan bernama latin eichornia crassipes itu memiliki banyak peran baik di perairan, namun apabila jumlahnya berlebihan justru akan berdampak negatif bagi ekosistem. Bahkan, bisa menyebabkan kematian massal hewan air. ‘’Perlu mengel­­­­ola limbah dengan benar, khususnya limbah organik yang tidak diolah dulu,” ungkap wa­nita yang juga dosen ilmu lingku­ngan tersebut.

Sementara itu, eceng gondok di wilayah sungai Bengawa Solo turut Kecamatan Malo selalu muncul setiap tahunnya. Meski keberadaannya hilang sendiri saat musim hujan. Namun, setiap tahun jumlahnya semakin bertambah.  ‘’Lebih banyak dibanding tahun lalu,” ungkap Ofan, warga Desa Rendeng, Kecamatan Malo. (dan/bgs)

Editor : Hakam Alghivari
#bengawan solo #bojonegoro #Eceng Gondok #pertumbuhan #aliran sungai bengawan solo