BOJONEGORO, Radar Bojonegoro - Tampak para penabuh gamelan karawitan mengenakan balutan seragam senada nan serasi. Biru dengan blangkon coklat di atas kepala.
Gamelan mulai ditabuh memercikkan nada menyatu dengan malam. Pertanda acara langen tayub segera dibuka.
Tidak berselang lama pesinden mulai menarik suara. Menyanyikan gending-gending Jawa-Indonesia dengan anggunnnya. Para perangkat desa pun mulai maju ke tengah tempat acara. Melakukan adat tradisinya menaruh uang di ember tersedia.
Dilanjutkan warga khususnya laki-laki menggunakan sampur (seledang) mendatangi pesinden dengan ceria. Berbekal uang saweran semampunya lenggak lenggok badan ke kanan dan kiri menunjukkan nikmatnya suasana.
Langen tayub menjadi kesenian wajib sedakah bumi di beberapa desa. Salah satunya Desa Semanding, Kecamatan Bojonegoro Kota. Bukti nyata langen tayub masih terjaga. ‘’Setiap tahun ketika sedekah bumi dari dulu Sampai sekarang perjunjukkan seninya langen tayub disertai karawitannya,” kata Puhndori warga desa setempat.
Dilakukan setiap sekali setahun di Jumat Pon dalam hitungan Jawa. Pagelaran langen tayub wajib dilakukan di malam hari. Dia menambahkan, jika diganti pasti terjadi hal tidak diinginkan. ‘’Tidak bisa diganti. Karena kalau diganti pasti ada yang ganjal seperti terjadi musibah,” tutur warga RT 6 RW 1 tersebut. (yna/msu)
Editor : Hakam Alghivari