BOJONEGORO, Radar Bojonegoro – Lahan seluas 11.898 hektare tanaman tembakau di Bojonegoro diprediksi akhir panen jatuh pada awal Oktober mendatang.
Lahan tembakau tersebar di Kecamatan Baureno, Temayang, Kedungadem, Kepohbaru, Sugihwaras, Sukosewu, Ngasem, dan Malo.
Kepala Bidang (Kabid) Tanaman Pangan Holtikultura dan Perkebunan Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Bojonegoro Imam Nurhamid Arief mengatakan, saat ini beberapa daerah sudah panen tembakau. Namun, untuk masa tembakau sendiri masih berlangsung sekitar satu bulan.
‘’Awal Oktober diperkirakan akhir masa panen tembakau,” ujarnya.
Selama dua tahun ini, tepatnya sejak 2022, menurut Imam, harga tembakau berpihak kepada petani. Karena terus mengalami kenaikan.
Untuk harga tembakau kering rajangan biasanya hanya kisaran Rp 30.000 per kilogram. Saat ini mencapai Rp 50.000 per kilogram.
‘’Untuk harga daun tembakau sebelum dirajang dan dikeringkan berbeda-beda. Rerata Rp 3.000 perkilo,’’ jelasnya.
Petani di Bojonegoro paling banyak menanam tembakau jenis Virginia. Tembakau jenis ini sering digunakan sebagai bahan baku pembuatan rokok.
‘’Setelah panen, biasanya penjual langsung menyetor tembakau ke pabrik-pabrik rokok yang ada di Bojonegoro dan luar kota,’’ tuturnya.
Dia melanjutkan, berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Di mana para petani mencari pedagang untuk penjual tembakaunya.
Saat ini justru kebalikannya. Para pedagang yang datang langsung ke petani untuk membeli tanamannya.
‘’Rerata para petani merajang dan menjemur sendiri tembakaunya. Kemudian, setelah kering baru dijual,” tambahnya.
Namun, ada juga petani tembakau yang menjual langsung daun tembakaunya. Sehingga tidak perlu merajang dan mengeringkan. Harga daun tembakau sekitar Rp 3.500 hingga Rp 5.000, per kilogram. (ewi/bgs)
Editor : Yuan Edo Ramadhana