BOJONEGORO, Radar Bojonegoro – Tanah PT Kereta Api Indonesia (KAI) di Kelurahan Sumbang, Kecamatan Bojonegoro Kota semakin padat penduduk.
Sebanyak 90 kepala keluarga (KK) tinggal di Gang Sidorukun dan Gang Akasia, Kelurahan Sumbang, Kecamatan Bojonegoro Kota. Lahan di kedua gang itu statusnya aset PT KAI.
Warga masih berembug merumuskan harga sewa lahan. Sementara, kawasan yang terletak sebelah utara rel kereta api (KA) tersebut, kini berdiri berbagai fasilitas umum (fasum) seperti sekolah hingga tempat ibadah.
Tony Ade Irawan, salah satu warga Kelurahan Sumbang mengatakan, saat ini total warga yang tinggal di Gang Sidorukun dan Gang Akasia di Kelurahan Sumbang, terdapat sekitar 90 kepala keluarga (KK), dan ada 62 petak lahan yang ditempati.
‘’Warga akan berembug dahulu, karena harga yang ditentukan oleh PT KAI yaitu Rp 17.500 per meter per tahun itu tidak bisa ditawar lagi,” ungkapnya.
Tony menambahkan, akan berkoordinasi dan menyampaikan harga kepada masyarakat secara keseluruhan.
Terlebih dengan adanya keberatan yang disampaikan perwakilan warga, karena harus membayar dengan rerata sekitar Rp 20 juta.
‘’Sementara rerata warga yang tinggal di tanah KAI itu masuk dalam daftar mandiri kemiskinan daerah (Damisda),” bebernya.
Manager Humas KAI Daop 8 Surabaya Luqman Arif menjelaskan, PT KAI Daop 8 Surabaya telah mempunyai perhitungan terkait tanah KAI yang dimanfaatkan warga.
Namun, saat ini masih dalam proses sosialisasi terkait pemanfaatan tanah tersebut.
‘’Kami sudah punya patokan harga yang telah dihitungkan,” katanya terpisah.
Arif melanjutkan, proses sosialisasi pemanfaatan tanah tersebut tidak serta merta membuat kawasan permukiman langsung ditertibkan.
Hal tersebut masih menunggu sosialisasi lanjutan, hingga proses berikutnya baru memberi surat peringatan (SP).
‘’Masih ada sosialisasi lanjutan, surat peringatan, hingga adanya proses mediasi,” pungkasnya. (dan/msu)
Editor : Yuan Edo Ramadhana