Puisi Radar Bojonegoro oleh Mahrus Ali

Muhammad Suaeb • Dipublikasikan Minggu, 13 September 2026 | 08:00 WIB
ilustrasi buku
ilustrasi buku

Oleh: Mahrus Ali


Tentang Sastra

Sastra adalah rumah

tempat jiwa pulang

Ketika dunia terlalu gaduh

dan manusia terlalu sibuk

mengukur kebenaran dari suara

Serta harga diri dari tepuk tangan

Baca Juga: Puisi Radar Bojonegoro: Oleh Nono Warnono

Di sana

Kata-kata tidak dipaksa menjadi penjilat

Tumbuh liar

Seperti rumput di sela batu

Seperti keberanian

yang diam-diam menyelamatkan nurani

 Baca Juga: Puisi Radar Bojonegoro: Oleh Susanto

Sastra adalah gunung

Tempat kita mendaki kesunyian

Meninggalkan sebentar

keramaian yang membuat kita lupa

Siapa sebenarnya diri kita

Di puncak

Kita belajar bahwa yang paling tinggi bukan mereka yang berdiri di atas kepala orang lain

Melainkan mereka

yang mampu merendahkan hati

di hadapan kebenaran

 Baca Juga: Puisi: Oleh Suharsono

Sastra adalah laut

Tempat kesombongan ditenggelamkan

Gelar kehilangan gema

Jabatan kehilangan bayang-bayang

Nama besar menjadi sebutir pasir

yang tak lebih istimewa

daripada pasir di telapak kaki nelayan

 

Sastra adalah sajadah

Terbentang di antara luka dan doa

Di atasnya

Air mata menjadi bahasa

yang bahkan malaikat mungkin lebih mengerti

Daripada pidato-pidato panjang manusia

 

Kita merapal doa

Bukan untuk mengalahkan siapa-siapa

Tetapi agar hati sendiri

tidak berubah menjadi sesuatu

yang sedang kita lawan

 

Sebab betapa mudahnya

mengutuk kezaliman

Sambil diam-diam memeliharanya

di dalam dada

 

Betapa mudahnya

Berbicara tentang keadilan

Sementara tangan kita

masih gemar mengambil

apa yang bukan haknya

 

Sastra datang

Bukan sebagai pedang

untuk menebas leher manusia

Melainkan sebagai cermin

Untuk memperlihatkan

wajah kita sendiri

 

Sastra bisa menjadi badai

Datang ketika kebohongan terlalu lama

Dibangun menjadi istana

Mengguncang pintu-pintu

yang selama ini dijaga

Oleh orang-orang yang takut

pada pertanyaan

 

Sastra tidak melulu harus lembut

Kadang harus menjadi petir

yang membelah langit

Agar manusia sadar

bahwa gelap bukanlah takdir

 

Kadang harus berupa angin

Menerbangkan tirai lusuh

Namun menyejukkan tubuh

 

Dan sastra adalah jejak

yang ditinggalkan manusia

Setelah tubuhnya selesai berjalan

Maka jadikanlah rumah

Bagi mereka yang kehilangan arah

Jadikan  gunung

Bagi mereka yang ingin bercermin

Jadikan ia laut

Bagi mereka yang ingin belajar rendah hati

Jadikan sajadah

Bagi mereka yang ingin pulang kepada Tuhan

Jadikan badai

Bagi kebohongan yang terlalu lama

Mengaku sebagai kebenaran.

 

Dan jadikan ia kejujuran

Di antara hujan dan angin

Di antara luka dan harapan

D antara manusia

yang sedang belajar menjadi manusia


Pulanglah Kepada Kebaikan

 Sudah selesai

Sudah diputuskan

Maka pulanglah

Kembalilah kepada kebutuhan harian

 

Kepada agamamu

Kepada negaramu

Kepada anak-anakmu

Kepada keluargamu dan masa depan yang masih panjang

Tidak semua perbedaan harus diwariskan menjadi permusuhan Tidak semua kekalahan harus dipelihara menjadi dendam

Dan tidak setiap kemenangan pantas dirayakan dengan merendahkan

 

Sebab di luar forum

Masih ada rakyat yang membutuhkan pengabdian

Ada anak-anak yang menunggu teladan

Ada keluarga yang membutuhkan kasih sayang

Ada bangsa yang menunggu kerja nyata

NU adalah NU

Lahir dari pesantren

Lahir dari tradisi keulamaan

Dan dari cita-cita besar merawat agama sekaligus kemanusiaan

Maka jangan biarkan hiruk-pikuk sesaat membuat kita lupa pada ruh perjuangan

 

Pulanglah kepada kebaikan

Pulanglah kepada persaudaraan

Pulanglah menjadi manusia

 

*31 Agustus 2026

Editor : Farhan Reza Ardiansyah
Pulanglah agamamu sastra nu