Oleh: Mahrus Ali
Tentang Sastra
Sastra adalah rumah
tempat jiwa pulang
Ketika dunia terlalu gaduh
dan manusia terlalu sibuk
mengukur kebenaran dari suara
Serta harga diri dari tepuk tangan
Baca Juga: Puisi Radar Bojonegoro: Oleh Nono Warnono
Di sana
Kata-kata tidak dipaksa menjadi penjilat
Tumbuh liar
Seperti rumput di sela batu
Seperti keberanian
yang diam-diam menyelamatkan nurani
Baca Juga: Puisi Radar Bojonegoro: Oleh Susanto
Sastra adalah gunung
Tempat kita mendaki kesunyian
Meninggalkan sebentar
keramaian yang membuat kita lupa
Siapa sebenarnya diri kita
Di puncak
Kita belajar bahwa yang paling tinggi bukan mereka yang berdiri di atas kepala orang lain
Melainkan mereka
yang mampu merendahkan hati
di hadapan kebenaran
Baca Juga: Puisi: Oleh Suharsono
Sastra adalah laut
Tempat kesombongan ditenggelamkan
Gelar kehilangan gema
Jabatan kehilangan bayang-bayang
Nama besar menjadi sebutir pasir
yang tak lebih istimewa
daripada pasir di telapak kaki nelayan
Sastra adalah sajadah
Terbentang di antara luka dan doa
Di atasnya
Air mata menjadi bahasa
yang bahkan malaikat mungkin lebih mengerti
Daripada pidato-pidato panjang manusia
Kita merapal doa
Bukan untuk mengalahkan siapa-siapa
Tetapi agar hati sendiri
tidak berubah menjadi sesuatu
yang sedang kita lawan
Sebab betapa mudahnya
mengutuk kezaliman
Sambil diam-diam memeliharanya
di dalam dada
Betapa mudahnya
Berbicara tentang keadilan
Sementara tangan kita
masih gemar mengambil
apa yang bukan haknya
Sastra datang
Bukan sebagai pedang
untuk menebas leher manusia
Melainkan sebagai cermin
Untuk memperlihatkan
wajah kita sendiri
Sastra bisa menjadi badai
Datang ketika kebohongan terlalu lama
Dibangun menjadi istana
Mengguncang pintu-pintu
yang selama ini dijaga
Oleh orang-orang yang takut
pada pertanyaan
Sastra tidak melulu harus lembut
Kadang harus menjadi petir
yang membelah langit
Agar manusia sadar
bahwa gelap bukanlah takdir
Kadang harus berupa angin
Menerbangkan tirai lusuh
Namun menyejukkan tubuh
Dan sastra adalah jejak
yang ditinggalkan manusia
Setelah tubuhnya selesai berjalan
Maka jadikanlah rumah
Bagi mereka yang kehilangan arah
Jadikan gunung
Bagi mereka yang ingin bercermin
Jadikan ia laut
Bagi mereka yang ingin belajar rendah hati
Jadikan sajadah
Bagi mereka yang ingin pulang kepada Tuhan
Jadikan badai
Bagi kebohongan yang terlalu lama
Mengaku sebagai kebenaran.
Dan jadikan ia kejujuran
Di antara hujan dan angin
Di antara luka dan harapan
D antara manusia
yang sedang belajar menjadi manusia
Pulanglah Kepada Kebaikan
Sudah selesai
Sudah diputuskan
Maka pulanglah
Kembalilah kepada kebutuhan harian
Kepada agamamu
Kepada negaramu
Kepada anak-anakmu
Kepada keluargamu dan masa depan yang masih panjang
Tidak semua perbedaan harus diwariskan menjadi permusuhan Tidak semua kekalahan harus dipelihara menjadi dendam
Dan tidak setiap kemenangan pantas dirayakan dengan merendahkan
Sebab di luar forum
Masih ada rakyat yang membutuhkan pengabdian
Ada anak-anak yang menunggu teladan
Ada keluarga yang membutuhkan kasih sayang
Ada bangsa yang menunggu kerja nyata
NU adalah NU
Lahir dari pesantren
Lahir dari tradisi keulamaan
Dan dari cita-cita besar merawat agama sekaligus kemanusiaan
Maka jangan biarkan hiruk-pikuk sesaat membuat kita lupa pada ruh perjuangan
Pulanglah kepada kebaikan
Pulanglah kepada persaudaraan
Pulanglah menjadi manusia
*31 Agustus 2026
Editor : Farhan Reza Ardiansyah