Cerpen Radar Bojonegoro: Belenggu Upeti Desa Karang Gantung Oleh Suharsono

Muhammad Suaeb • Dipublikasikan Sabtu, 8 Agustus 2026 | 07:20 WIB
Ilustrasi Ainur Ochiem (AINUR OCHIEM/RADAR BOJONEGORO)
Ilustrasi Ainur Ochiem (AINUR OCHIEM/RADAR BOJONEGORO)

Oleh: Suharsono


KABUT pagi yang mulanya tekun membalut Karang Gantung dengan kehangatan senyap, perlahan tersingkap bagai tirai sutra yang koyak. Di lereng bukit berketinggian seribu meter dari aras laut itu, dentang pancuran air jernih dan aroma cengkih berkilat yang dahulu bertaut mesra, kini perlahan luntur ditelan ketamakan.

Tanah subur yang tak pernah lelah memanjakan jemari para petani itu mulai merintih semenjak langkah jumawa Pak Kuwu Argorejo, seorang penguasa bertangan dingin, mulai menukar keheningan tanah kelahiran demi dahaga kekuasaan yang tak kunjung terobati.

Atas nama jargon "Modernisasi Agrowisata", ambisi besar digulirkan tanpa memberi ruang bernapas bagi bumi. Lembaga BUMDes yang semula menjadi benteng penopang hidup warga, bertransformasi menjadi gurita bertangan besi yang melilit seluruh aset desa. Tanah kas penjamin pangan digadaikan kepada kaum pemodal berjas rapi, suara deras sungai dibendung secara serampangan demi deretan resort mewah, dan riwayat pohon cengkih peninggalan para leluhur ditumbangkan tanpa sisa. Keserakahan Argorejo beserta kroni-kroninya menggerogoti kas desa hingga yang tersisa di lembar pembukuan hanyalah angka-angka merah nan fiktif.

Hanya dalam pusaran dua warsa, retorika kemakmuran itu menjelma nestapa murni. BUMDes dinyatakan runtuh terbelit utang bernilai miliaran rupiah, menelan bulat-bulat tabungan air mata ratusan kepala keluarga. Karang Gantung yang semula berseri mendadak lumpuh total; fasilitas umum dibiarkan merana, jalan-jalan berlubang menganga bagai luka tak bertaut, dan setetes air bersih yang dahulu melimpah kini menjadi barang mewah bersirat harga yang mencekik tenggorokan.

Baca Juga: Cerpen Radar Bojonegoro: Proyektil Kehancuran yang Tertinggal oleh Heri Haliling

Namun, kepahitan belum benar-benar purna mencengkeram. Demi menutup lubang hitam kebangkrutan yang ditorehkannya sendiri, Argorejo menerbitkan "Perdes Penyesuaian Swadaya"—sebuah piagam upeti gila-gilaan yang memeras sisa-sisa napas rakyatnya. Pajak tanah dilipatgandakan tanpa ampun, retribusi panen dipatok melampaui hasil bersih, bahkan setiap tetes air yang mengalir ke petak-petak sawah kini ditagih beserta denda yang melilit leher.

Kini, Karang Gantung bukan lagi persinggahan berteduh, melainkan sangkar besi beratap langit. Di bawah bayang-bayang bukit yang kini gundul dan gersang, dentang lonceng balai desa saban awal bulan bergema bagaikan vonis hukuman mati. Para petani menatap tanah yang merenggang retak dengan mata bersimbah duka, meratapi suratan takdir: menua di tanah sendiri, namun harus merangkak di bawah cengkeraman pemimpin yang membunuh masa depan mereka demi sebongkah kemewahan.

Malam merayap lambat di pelataran gubuk Bambang, seorang lelaki tua yang jemarinya telah retak oleh puluhan tahun gelora kerja keras. Di hadapannya, tiga petani muda duduk melingkar di atas tikar pandan kusam, menatap sebatang lilin yang apinya menari-nari ditiup angin dingin. Di luar, desir pancuran air yang dulu menjadi lullaby penidur lelap kini berganti gemuruh mesin pengeruk investor, seolah tak henti mengikis sisa keheningan yang tersisa di dada Karang Gantung.

Baca Juga: Cerpen Radar Bojonegoro: Air Mata Kemarau oleh Choirul Anam

"Tanah ini dahulu memiliki napas dan jiwa, San," bisik Bambang seraya memilin tembakau pada jemarinya yang gemetar. Matanya yang meredup menatap bayang-bayang samar di dinding gedek. "Kita membasahinya dengan peluh, dan ia membalasnya dengan wangi harum bunga cengkih. Namun Argorejo... ia tak pernah memandang tanah ini sebagai rahim ibu. Ia hanya melihatnya sebagai bangkai yang bisa diecer, dipotong-potong demi menimbun keping emas di peti peribadinya."

Santi, perempuan tani yang mengubur separuh usianya di antara pepohonan cengkih, menunduk kian dalam. Tangannya meremas kertas tagihan pajak desa yang terasa seberat bongkahan batu gunung. "Bagaimana mungkin sebuah janji tentang kemajuan justru menempa rantai besi di leher kita, Kang Bambang? Pajak ini bukan lagi derma pembangunan, melainkan upeti darah. Kita disewa untuk memetik buah, tetapi kini ditagih bayaran hanya untuk menghirup udara di tanah kelahiran sendiri."

"Sebab dalam benak seorang pencandu kekuasaan, rakyat tak pernah dihitung sebagai manusia, melainkan perasan batang tebu," sela Bayu, pemuda desa yang terpaksa menyerahkan gubuk dan petak tanahnya setelah disita BUMDes. Suaranya rendah, namun mengiris bagai sembilu. "Argorejo menjual air mata kita ke luar desa, lalu membeli tumpukan utang untuk dipikulkan ke pundak anak-cucu kita. Apakah modernisasi selalu menuntut kita bertelanjang dada di tengah badai, hanya agar sang penguasa dapat mengenakan jubah sutra?"

Bambang mengembuskan asap tembakau perlahan, melayang-layang membelah pekatnya malam. "Keserakahan selalu menyamar dalam bahasa yang elok sewaktu pertama kali bertandang, Bayu. Ia datang mengenakan mantel 'kemajuan', berselimut 'kesejahteraan', dan bersuara bagai gending surgawi. Namun tatkala topengnya terkelupas, kita baru tersadar bahwa kemajuan yang ia maksud adalah kemajuan menuju jurang, dan kita dijadikan alas agar ia tak membentur kerasnya dasar."

Baca Juga: Cerpen Radar Bojonegoro: Tujuh Kaus Souvenir, Semangat Mengalir oleh Ahmad Fanani Mosah

"Lantas sampai kapan kita membiarkan kebohongan bertopeng ini bertakhta?" sahut Santi, matanya berkaca-kaca menahan gemuruh geram. "Toko BUMDes telah terkunci rapat, uang tabungan puluhan tahun lenyap tanpa jejak, dan setiap pagi juru tagih Argorejo berdiri di ambang pintu bagai malaikat maut. Jika kita memilih terus membisu, desa ini bukan sekadar bangkrut secara finansial, melainkan mati terkubur bersama martabatnya."

"Sesuatu yang didirikan di atas fondasi keserakahan memang tampak berkilau dari kejauhan, Santi, tetapi rapuh di dalamnya," balas Bayu sembari menunjuk bayangan Balai Desa Karang Gantung yang megah di kejauhan. "Argorejo mengira ia telah membungkam desa ini lewat lembaran-lembaran hukum yang dibuatnya sendiri. Namun ia lupa, aturan yang lahir tanpa rahim keadilan hanyalah penindasan yang diberi cap stempel resmi."

"Tetapi meratapi kegelapan tak akan pernah memadamkan kobaran api pajak yang melilit kita besok pagi," bisik seorang petani tua lain yang semenjak tadi tenggelam dalam diam. "Kita telah kehilangan alur air, kehilangan ladang cengkih, dan kini terancam diusir dari atap tempat berteduh. Adakah yang lebih perih ketimbang menjelma asing dan terasing di atas tanah yang dahulu disucikan oleh darah leluhur kita sendiri?"

Bambang mematikan puntung tembakau pada piring seng tua dengan satu remasan pasti. Tatapannya menembus kegelapan malam, tertuju lurus pada gugusan perbukitan yang kini gundul. "Argorejo mungkin berhasil menguras kas desa hingga tak tersisa sepeser pun, tetapi ia tak akan pernah sanggup membeli jiwa Karang Gantung. Ketakutan adalah hidangan paling lezat bagi para penindas. Selama kita masih sanggup mengepal jemari dan mengeja kebenaran, keserakahan itu sesungguhnya sedang menghitung detik kejatuhannya sendiri."

Malam kian larut, namun pendar api kecil di pelataran gubuk Bambang enggan padam. Di antara desir angin malam yang mengusung aroma tanah kering, empat jiwa itu tak lagi sekadar meratapi nasib yang tercabik. Dalam keheningan yang merayap panjang, tuturan sunyi itu perlahan berpilin menjadi panduan tekad, sebuah perlawanan dalam senyap yang siap membumihanguskan ikatan pajak yang selama ini mencekik leher Karang Gantung.

Baca Juga: Cerpen Radar Bojonegoro: Calak Limbung oleh Anggalih Bayu Muh Kamim

Pagi itu, Karang Gantung tak lagi disapa halus oleh kabut, melainkan oleh derap langkah ratusan warga yang berderak bagai gempa dari kedalaman bumi. Berbekal cangkul, obor mati, dan lembaran tagihan pajak yang lusuh terkena lelehan air mata, mereka mengepung Balai Desa. Di atas undakan pualam balai desa yang megah, kemewahan mencolok yang dibeli dari bangkai aset warga, Pak Kuwu Argorejo berdiri berkacak pinggang, dikawal belasan aparat berpentung besi, menatap rakyatnya dengan pandangan dingin seolah memandang kawanan serangga pengganggu.

"Kalian hanya datang membuang waktu!" suara Argorejo membelah udara pagi, bergema penuh keangkuhan lewat pengeras suara. "Pajak desa adalah hukum yang sah! BUMDes meminjam modal demi masa depan kalian sendiri! Jika BUMDes roboh, kalian yang wajib menjadi penopang tiangnya! Bayar kewajiban kalian, atau sertifikat tanah dan rumah kalian akan berpindah tangan menjadi milik pemodal!"

Kalimat itu jatuh bagai percikan api di atas tumpukan jerami kering. Kerumunan warga bergemuruh; sebuah gelombang keputusasaan yang mendadak menjelma amarah murni. Namun sebelum massa menembus barikade pagar besi, Bambang melangkah maju ke garis paling depan. Tanpa senjata, hanya berbalut sarung lusuh dan ketenangan seorang pria yang tak lagi memiliki apa pun untuk dipertaruhkan, ia menatap lurus ke dalam manik mata Argorejo yang berkilat serakah.

"Masa depan yang mana yang kau maksud, Pak Kuwu?" tanya Bambang. Suaranya tidak membahana, namun getaran kebenaran di dalamnya merayap masuk ke celah-celah pualam balai desa, membungkam riuh kepungan. "Masa depan di mana anak-anak kami menelan debu dari resort milik asing? Ataukah masa depan di mana para tetua wafat tanpa obat karena dana kas desa habis kau lahap di meja perundingan rahasiamu? Kau tak sedang membangun desa, Argorejo. Kau sedang menggali liang kubur bagi kami, lalu menagih sewa atas tanah kuburannya!"

Argorejo menyeringai sinis, membenarkan letak kerah kemeja sutranya yang licin. "Hukum tak pernah peduli pada air mata, Bambang! Negara ini berdiri di atas fondasi aturan dan lembar kertas kerja! Kebangkrutan desa adalah bagian dari risiko pembangunan!" Santi maju memandangi Bambang, mengangkat tinggi-tinggi selembar kertas bertuliskan 'Segel Penyitaan' yang kemarin terpasang di pintu rumahnya. "Kertas!" jerit Santi, suaranya parau menahan rasa perih yang teramat sangat. "Kau menukar darah, keringat, dan ingatan leluhur kami dengan selembar kertas! Kau sebut ini risiko, padahal ini adalah pencurian bertopeng jabatan! Kau potong kaki kami, lalu kau paksa kami membeli tongkat dari tanganmu sendiri dengan harga yang tak pernah terjangkau!"

Baca Juga: Cerpen Radar Bojonegoro: Bukan Kursi Kami oleh Suharsono

Di saat ketegangan berada di pucuk tanduk, langit Karang Gantung mendadak legam. Angin kencang bertiup melintasi bukit yang gundul, membawa gumpalan awan hitam yang mendadak memuntahkan hujan deras bercampur lumpur pekat. Argorejo terperosok, terpeleset di atas pualam yang kini licin terbalut lumpur hitam. Petinggi desa yang tadinya berdiri tegak bagai raja itu kini merangkak hina, mencoba menyelamatkan berkas-berkas BUMDes yang hanyut terbawa arus air bah. "Keserakahanmu telah selesai mengeja riwayat terakhirnya, Argorejo," pangkas Bambang lirih, menembus deru hujan. "Hari ini, Karang Gantung menyaksikan bahwa pemimpin yang memangsa rakyatnya sendiri, pada akhirnya akan tersedak oleh tanah yang ia khianati."

Hujan reda secepat bertandangnya, namun kegelapan baru bertandang lebih pekat. Di gubuknya, Bambang memandangi telegram rahasia dari ibu kota yang mengabarkan bahwa seluruh tanah Kas Desa telah resmi dijual ke pusat kekuasaan sebelum demonstrasi meletus. Dari luar, derap sepatu laras panjang, sirine meraung, dan pendar lampu sorot pasukan asing mulai mengepung desa. Santi dan Bayu mendobrak pintu dengan napas terengah-engah, sementara lonceng balai desa di kejauhan berdentang sendiri dalam kedinginan malam yang membeku.

 

Bumi Utara, 24.07.26

 

Editor : Farhan Reza Ardiansyah
kabut Desa bumdes tembakau