Oleh: Feb
Bojonegoro
PAGI itu saya berangkat dari Gresik menuju Bojonegoro naik bus umum. Jam masih menunjukkan pukul 06.45 ketika bus berangkat. Matahari baru naik, para penumpang masih setengah mengantuk, dan sopir tampak lebih segar dibandingkan saya yang semalaman ditemani kopi sachet dan deadline.
Awalnya suasana bus cukup manusiawi. Penumpang duduk rapi. Ada pegawai kantor dengan kemeja licin, pelajar dengan tas ranselnya, ibu-ibu pedagang yang membawa barang dagangan, hingga bapak-bapak yang sejak berangkat sudah tidur dengan tingkat kekhusyukan setara hibernasi beruang.
Baca Juga: Cerpen Radar Bojonegoro: Ritus Penghancuran Berhala Diri oleh Suharsono
Namun, begitu memasuki wilayah Lamongan, bus perlahan berubah fungsi. Dari angkutan umum menjadi seminar nasional tentang toleransi ruang.
Satu per satu penumpang naik. Kursi penuh. Lorong penuh. Tangga penuh. Bahkan saya menduga kalau ada ruang kosong di atas kepala sopir, pasti akan dimanfaatkan juga.
"Kebelakang, Pak... masih longgar!" teriak kernet.
Saya menoleh. Yang dimaksud "masih longgar" rupanya adalah celah udara berukuran sekitar tujuh sentimeter di antara dua penumpang.
Para penumpang berdiri pun mulai menjalani takdirnya. Mereka seperti pion catur. Ketika ada penumpang naik dari depan, mereka digeser ke belakang.
"Kebelakang dulu, Pak."
Lima menit kemudian ada penumpang naik dari pintu belakang.
"Maju sedikit, Bu."
Mereka pun maju.
Begitu terus.
Kalau dihitung, mungkin jarak tempuh penumpang berdiri dari Gresik ke Bojonegoro sama dengan peserta jalan sehat 5 kilometer.
Di tengah kepadatan itu, naiklah seorang pengamen.
Dengan penuh optimisme, ia memetik gitar.
"Ku menangis..." suaranya melengking.
Penumpang tidak menangis karena lagu. Mereka menangis karena siku pengamen mengenai tulang rusuk mereka setiap kali berpindah posisi.
Baca Juga: Cerpen Radar Bojonegoro: Ka'bah di Kepala Lek Kanif oleh Em. Syuhada'
Belum selesai satu lagu, masuk lagi pedagang asongan.
"Aqua-aqua... tahu-tahu... kacang-kacang..."
Saya kagum. Dalam kondisi sesak seperti itu, mereka tetap bisa bergerak lincah. Mungkin mereka diam-diam alumni pelatihan infiltrasi pasukan khusus.
Bus semakin padat.
Kami tidak lagi berdiri.
Kami saling menopang.
Hukum gravitasi seolah tidak berlaku. Kalau satu orang kehilangan keseimbangan, sepuluh orang lain otomatis ikut menahannya.
Seorang bapak di samping saya berbisik, "Kalau bus ini ngerem mendadak, kita tidak jatuh, Mas. Soalnya sudah terkunci."
Saya mengangguk. Benar juga. Kami sudah berubah menjadi satu kesatuan biologis. Seperti pindang.
Masalah lain muncul ketika ada penumpang hendak turun.
Anehnya, semua penumpang wajib turun lewat pintu depan.
Termasuk mereka yang duduk paling belakang.
Pemandangan pun menjadi menarik.
Seorang ibu dari kursi belakang harus melakukan ekspedisi menembus hutan manusia.
"Permisi, Pak."
"Permisi, Bu."
"Maaf, numpang lewat."
Perjalanan dari kursi belakang ke pintu depan memerlukan waktu lebih lama dibandingkan proses check-in di bandara kecil.
Kadang bus sudah hampir melewati tujuan ketika penumpang baru berhasil mencapai separuh lorong.
Ironisnya, tarif yang dibayar penumpang berdiri sama dengan penumpang duduk. Padahal fasilitasnya jauh berbeda.
Yang satu mendapat kursi empuk, pemandangan jendela, bahkan bisa tidur.
Yang lain mendapat fasilitas premium berupa aroma campuran minyak kayu putih, parfum, keringat, dan kadang bonus gitar akustik langsung di telinga.
Tentu awak bus punya alas an masuk akal. "Mereka naik atas kemauan sendiri, kok."
Benar.
Tetapi logika itu sama seperti mengatakan, "Orang rela antre berjam-jam di kantor pelayanan, berarti pelayanannya sudah baik.
"Fenomena angkutan umum seperti itu tentu tidak hanya terjadi di jalur Surabaya-Bojonegoro. Tapi juga banyak ditemui di jalur-jalur lain di seluruh Indonesia, bahkan di negara lain.
Transportasi umum bukan sekadar memindahkan orang dari satu tempat ke tempat lain. Ia adalah layanan publik yang harus menjunjung keselamatan, kenyamanan, dan keadilan.
Karena itu, sudah saatnya ada pembenahan.
Pertama, jumlah penumpang berdiri perlu dibatasi sesuai kapasitas. Keselamatan tidak boleh dikalahkan setoran.
Kedua, sistem naik dan turun harus dibuat lebih manusiawi. Penumpang yang duduk di belakang sebaiknya bisa turun melalui pintu belakang sehingga tidak perlu melakukan "napak tilas Pantura" di dalam bus.
Ketiga, perlu dipertimbangkan tarif berbeda antara penumpang duduk dan berdiri, atau minimal ada standar pelayanan minimum yang wajib dipenuhi operator.
Dan yang paling penting, pemerintah daerah bersama operator angkutan perlu memperbaiki kualitas transportasi umum agar masyarakat tetap mau menggunakannya.
Sebab jika naik bus terus terasa seperti menjadi pindang berjalan, jangan salahkan masyarakat lebih memilih naik sepeda motor atau mobil pribadi. Walaupun harus macet. Setidaknya, mereka bisa menjadi pindang dengan lebih bermartabat.
Padahal kemacetan merupakan masalah sosial yang semakin menjadi ancaman dan semakin sulit mencari solusinya. Karena peningkatan jumlah kendaraan tidak sebanding dengan penambahan volume jalan.
Dan jangan disalahkan kalau suatu suatu saat angkutan publik yang sudah beroperasi bertahun-tahun hingga legend akan gulung tikar karena penumpangnya memilih angkutan publik baru yang lebih nyaman, aman, dan murah. Dan itu sudah terjadi!!! (*)
Editor : Hakam Alghivari