Oleh:
Nono Warnono
Malam itu rapat di balai desa tegang. Diskusi antara kepala desa plus aparaturnya serta tokoh-tokoh masyarakat seperti suasana perang. Adu argumentasi silih berganti. Suara adu mulut dengan nada semakin meninggi. Menjadi konfrontasi berhadapan dua kubu. Pihak yang pro dan kontra. Kepala desa, perangkat pun sebagian tokoh agama kiwari versus para tokoh dan kiai sepuh yang masih teguh memegang tradisi warisan aji.
Diskusi panas itu segera viral di berbagai platform media sosial. Desa Astina, kades Dremba dan para pemuka desa menjadi terkenal tidak hanya lokal namun menginternasional. Karuan saja perdebatan di balai desa itu menjadi perbincangan panas antar dua kubu netizen di media sosial. Tak ayal para pejabat daerah hingga nasional marah besar mengetahui kegaduhan di ruang digital. Sudah pasti para pejabat tersebut ikut tertampar mukanya. Inilah jaman kiwari. Era digital. Semua baru merespon manakala viral di media sosial.
Brakkk!!! Kades Dremba menggebrak meja saat rapat berikutnya di tempat yang sama. Kedua matanya memerah. Pertanda sedang menahan amarah. Jaja bang mawinga-winga, bak Dasamuka yang sedang murka. Peserta rapat sempat terdiam mencekam.
"Pertemuan ini dihadiri orang-orang berpendidikan. Dihadiri tokoh-tokoh terkemuka dan berpengalaman. Tapi ketika didkusi tidak manut dan susah diatur!" ujarnya bak berteriak.
Baca Juga: Lembar Budaya: Di Balik Tawa Mereka
Seperti api nan menyulut bahan bakar. Peserta rapat yang semula terdiam tegang, seketika ikut terbakar amarahnya. Mayoritas berdiri dari tempat duduknya sambil mengacungkan jari menginterupsi. Tanpa menunggu respon kades. Tidak menunggu saatnya dipersilakan, Mbah Mundzir tokoh agama sekaligus sesepuh desa Astina sontak menyela.
"Nuwun sewu, di rapat pertama saya sudah mengusulkan. Rembugan ini sebaiknya dijadikan sarana menampung dulu semua pendapat peserta rapat. Dibicarakan baik-baik secara demokratis. Tidak dengan saling memaksakan kehendak."
Kata-kata yang sesungguhnya bijak, tapi karena semua berangkat dengan membawa rasa ketidakpuasan membuncah. Ketika kades hendak merespon, semua kisruh. Chaos tak terkendalikan. Dapat diduga suasana rembugan selanjutnya. Kata-kata kasar tanpa adab. Meninggalkna norma agama. Debat kusir seperti anak kecil sedang bertengkar. Rapat buyar.
Rembugan perkara nyadran atau sedekah bumi itu tak menghasilkan keputusan apapun. Pertengkaran itu belum berhenti di media sosial. Bahkan semakin memanas. Perdebatan yang semula terjadi hanya terbatas di balai desa beralih ke dunia maya. Jagat mayapada tak henti perang narasi. Netizen yang sedari awal tidak tahu menahu duduk perkarnya, ikut campur dengan berbagai komentar ngawur. Ada yang mengecam kejadian itu, ada yang mendukung. Kegaduhan kolektif di ruang terbuka yang sangat kontra produktif.
Agenda nyadran dipending tidak dilanjutkan. Karena sudah membahayakan keamanan di desa Astina. Bahkan kontra produktif di level nasional. Kegaduhan semkin nyata. Terlihat di warung-warung kopi, hampir saban hari orang-orang di lavel grassroot berdebat kusir tanpa ujung. Hingga diantaranya terjadi gesekan fisik tingkat akar rumput yang meresahkan
Akar permasalan sesungguhnya hanya perkara rencana penyelenggaraan acara sedekah bumi di desa Astina yang saban tahun acap digelar. Pemantik perkara tersebut adalah kepala desa dan tokoh ulama muda menghendaki nyadran diganti dengan pengajian menghadirkan ustadz kondang tanpa kesenian. Budaya yang dianggap sudah ketinggalan kereta. Jadul, baheula, kuno tidak menggambarkan era digital. Serta argumentasi lain yang sok modern. Menelan mentah-mentah dinamika jaman dengan cara sok-sokan.
Di pihak berseberangan, para tetua dan kiai sepuh bersikukuh mempertahankan acara sedekah bumi dengan melestarikan seni budaya turun temurun sebagai warisan aji (legacy) yang dipadu dengan doa bersama. Memfasilitasi masyarakat yang masih ngleluri seni budaya leluhur sekaligus secara religius diberkahi dengan doa sebagai rasa syukur kepada Allah SWT. Kelompok ini sepakat hidup modern sesuai eranya, sepakat pengajian sebahai asupan rohani, tapi tidak dengan tiba-tiba mengubur seni budaya sebagai warisan adiluhung. Seperti yang selama ini ditradisikan di desa Astina. Menggelar seni tayub di siang hari, malamnya menyediakan tumpeng sedekah yang puncaknya ditutup dengan shalawatan pun doa bersama.
Dua bulan setelah kekisruhan narasi di tengah masyarakat dan di dunia ratmaya mereda, camat Lutfi mengumpulkan para tokoh desa bersama aparatur pemerintah desa. Dengan maksud pun tujuan merekatkan pihak-pihak yang selama ini saling berhadapan. Berkonfrontasi saling berebut kebenaran. Seperti biasanya kades kembali mengundang para tokoh desa. Meski yang mengundang dan memfasilitasi pihak pemerintah desa, namun yang memimpin rapat kali ini adalam camat Lutfi yang hadir bersama pihak koramil serta polsek setempat.
Baca Juga: Lembar Budaya: Segenggam Pagi untuk Kekasih
"Bapak ibu, terima kasih kepada semua pihak yang sudi hadir pada forum silaturahmi ini. Saya selaku camat bersama forkompimcam sangat menghargai keikhlasan para tokoh untuk bersama-sama membangun desa yang kita cintai. Forum ini saya agendakan untuk mempererat rasa kebersamaan para pemuka masyarakat, para tokoh teladan, beserta para ulama yang pada akhirnya dapat memberikan kesejukan di tengah masyarakat,"
Camat Lutfi memulai rapat dengan penuh kehati-hatian membangun narasi. Mencoba untuk menciptakan suasana rapat yang kondusif. Menjaga kata demi kata agar tak menyinggung perasaan salah satu pihak yang selama ini sering bertentangan pendapatnya. Selanjutnya camat muda ini lebih banyak memberikan informasi pemerintah terkait beberapa regulasi baru yang menyangkut pembangunan desa di berbagai dimensi kehidupan. Selebihnya memotivasi warga melalui tokoh untuk senantiasa berpartisipasi dalam pembangunan. Berkontribusi sesuai dengan bidangnya masing-masing. Berpartisipasi sesuai kekuatan yang dipunyai. Tidak ada unsur paksaan, tetapi atas dasar kesadaran dan suka rela. Di penghujung pertemuan camat membuka ruang tanya jawab yang sangat terbuka.
"Usulan saya, karena suasana sudah memungkinksn sebaiknya acara sedekah bumi yang pernah dirembug ditindaklanjuti lagi penyelenggaraannya," Ustadz Fahruddin ulama muda yang sekubu kades mengacungkan tangan.
"Setuju. Namun kalau rapat lagi terkait kelanjutan acara sedekah bumi, saya berharap undangan forum rapat seimbang antara unsur tokoh tua dan tokoh muda. Dikandung maksud, agar semua pihak legawa atas segala keputusan rapat." Mbah Mundzir merespon setelah ada sasmita dari camat yang memimpin jalannya rapat.
Memang selama ini undangan rapat yang hadir di balai desa sering tidak proporsional secara keterwakilan. Kebanyakan tokoh muda pendukung lurah Dremba yang diundang hadir. Sementara para tokoh tua yang selama kontestasi pilkades ditengarai tidak mendukung keterpilihan kades Dremba menjadi peserta minoritas. Padahal kalau dikalkulasi secara usia, jumlah masyarskat desa Astina masih didominasi oleh penduduk usia tua.
Atas usul saran tersebut camat Lutfi menanggapi dengan cara yang sangat demokratis. Disikapi dengan tenang, karena paham segala usul saran pasti ada kelebihan dan kekurangannya.
"Saya kira usul untuk menindaklanjuti agenda sedekah bumi saya pulangkan kembali kepada para peserta rapat. Apakah usulan dari ustadz Fahruddin disetujui?" tanya camat Lutfi meneruskan usul ustadz Fahrudi kepada forum.
"Setujuuu!" suara serempak mayoritas hadirin menyetujui.
"Bagaimana dengan saran Mbah Mundzir. Yang mengusulkan rapat membahas sedekah bumi yang akan datang dihadiri oleh perwakilan tua dan muda secara seimbang?" camat Lutfi mengkonfirmasi.
"Setujuu!"
Meski suara yang setuju tidak sebanyak sebelumnya, namun tetap mayoritas. Meskipun ada yang angkat tangan setuju hanya karena rasa segan. Sungkan karena usul tersebut logis, menggambarkan rasa adil. Seimbang perbandingan tokoh muda dan tua. Pengambilan keputusan dengan perwakilan yang proporsional sebagai tanda diskusi nan berlangsung secara demokratis.
Baca Juga: Lembar Budaya: Lubang Toilet
Acara silaturahmi yang diinisiasi camat berakhir dengan sukses. Semua pihak bisa menerima hasil rapat dengan ikhlas. Meski satu dua, termasuk kades Dremba terbersit rasa kecewa. Karena rapat berikutnya harus mengundang tokoh secara seimbang jumlahnya. Meski dalam hati masih berharap jika divoting saat rapat kedepan, banyak yang mendukung idenya meniadakan seni budaya di acara sedekah bumi.
Memang kades Dremba yang aslinya bernama Mohammad Diar Salemba lulusan pesantren progresif, cenderung mengabaikan hal-hal yang bernuansa tradisional. Tradisi yang dianggap takhayul, bidah dan kurofat. Meski jika ditelisik keengganan untuk melestarikan seni budaya bukan semata hal tersebut. Namun lebih karena besarnya biaya untuk memanggungkannya. Karena kalau harus mengadakan pagelaran tayub sekarang sudah bernilai puluhan juta. Belum terhitung ubarampe semacam sound system dan sejenisnya. Sudah barang tentu akan menguras anggaran desa yang akhir-akhir ini harus mengikuti efisiensi.
Oleh karena besarnya anggaran tersebut, Dremba berusaha sekuat tenaga untuk menghindarinya. Meski di panggung muka Dremba lihai berdramaturgi. Seolah alasannya menolak pagelaran seni budaya tersebut bagus karena menghindari maksiyat dan sejenisnya.
Kejuligan kades Dremba sudah terlihat pascarapat bersama camat di balai desa. Tokoh tua didekatinya agar saat rapat berikutnya berkenan mendukung kemauannya. Menolak jikalau nyadran diselenggarakan dengan pagelaran kesenian dan budaya yang dianggap tak bermanfaat. Mengemukakan berbagai argumentasi meski memutarbalikkan kebenaran demi menjustifikasi ambisinya. Kejuligan kades Dremba tidak sia-sia. Para tokoh sesepuh termakan bujuk rayunya. Bujuk rayu yang pernah sukses menggiring anak muda saat kontestasi pelkades yang akhirnya dimenangkannya.
Keruan saja, rapat membahas agenda tindak lanjut acara sedekah bumi dapat dilaksanakan dengan baik tanpa hambatan. Memang undangan tokoh tua muda yang dihadirkan terkesan proporsional. Namun karena sebagian sesepuh telah "digerilya" sebelumnya. Tak ayal rapat yang telah dikondisikan mayoritas mendukungnya. Bersih desa atau sedekah bumi hanya diselenggarakan dengan pengajian yang biayanya tidak seberapa besar. Dremba tak mempermasalahkan meski acara tidak berjalan sakral, yang penting dia bisa bicara di atas podium.
Saat pelaksanaan pengajian tokoh yang hadir kebanyakan orang-orang yang dulu saat kontestasi jadi pendukungnya. Para botoh dan buzzer-nya. Meskipun para jamaah yang hadir melimpah ruah. Hadirin yang berbondong datang tidak hanya warga desa Astins saja. Namun dihadiri oleh masyarakat dari berbagai desa di sekitarnya.
Semenatara ketatnya penjagaan keamanan sangat nampak dari jumlah aparat yang hadir. Selain dari polsek setempat, kelihatan kendaraan dari polres bahkan dari kodim serta para intel dengan segala penyamarannya. Seperti tak ingin kecolongan, yang bisa terjadi kerusuhan.
Para jamaah yang mengikuti pengajian membeludag meluber hingga jalan raya. Keramaian para pedagang menambah suasana hiruk pikuk. Penonton acap gemuruh bertempik sorak merespon joke-joke lucu dari pembicara. Meski yang dilontarkan kiai yang di atas podium adalah hal yang serius karena menyangkut maraknya korupsi oleh pejabat diberbagai lavel di negeri ini.
Ketika jamaah riuh rendah bertepuk tangan sambil ger-geran, kades Dremba terlihat masam raut mukanya. Kadang tersenyum kecut di tengah sorak sorai penonton. Mbah Mundzir yang turut hadir dan duduk tidak jauh dari lurah saat itu, sempat melirik ketidaknyamanan kades Dremba. Namun tidak lama karena rasa pekewuh.
Baca Juga: Lembar Budaya: Algoritma dan Secangkir Kopi
Ceramah agama rampung diakhiri dengan doa di akhir majelis. Pascadoa panggung diisi kembali dengan lantunan shalawat nabi mengiringi buyarnya para jamaah yang berangsur-angsur meninggalkan lokasi pengajian pun shalawatan. Sebagian penonton pecinta rasul masih menunggu hiburan shalawat yang dilantunkan oleh group shalawat "Al-Maghfirah" yang mengenakan seragam warna senada.
Tiba-tiba sebagian aparat keamanan mendekati kades Dremba di tempat duduknya. Menggiringnya keluar dari tenda yang berada di lapangan dekat makam desa. Mayoritas penonton dan tokoh yang hadir tidak menyadari jika kades Dremba ditangkap pihak kemanan karena terindikasi korupsi dana desa.
Dremba sendiri tidak menyadari jika selama viralnya rapat di balai desa di berbagai platform medsos, pihak keamanan sudah memantau dan mengendus ketidakberesan manajemen keuangan di desa Astina. Viralnya kejadian di desa Astina menjadi pintu masuk untuk mengusut berbagai laporan penyimpangan keuangan yang tidak transparan.
Dari kejauhan nampak kades Dremba dimasukkan ke mobil kepolisian, untuk menjalani langkah hukum selanjutnya pascanyadran. Momentum yang seharusnya menjadi introspeksi diri sebagai santri yang berkiprah di birokrasi. (*)
Editor : Yuan Edo Ramadhana