Daerah Ekonomi Gemas Haji & Umrah Headline News Internasional Kawan Cilik Kesehatan Kuliner Lentera Islam Mbakyu Nasional Opini Otomotif Pendidikan Peristiwa Persepsi Politik & Pemerintahan Redaksi She Sportainment Tausiah Ramadan Teknologi Weekend Wisata Yuk

Gereja Blora Libatkan Anak-Anak dalam Visualisasi Jalan Salib sebagai Ajang Penghayatan dan Penyadaran

Rahul Oscarra Duta • Sabtu, 4 April 2026 | 07:30 WIB
PENGHAYATAN: Anak-anak yang merupakan jemaat Gereja Katolik Paroki Santo Pius X Blora menjalani prosesi visualisasi jalan salib, Kamis (2/4). (RAHUL OSCARRA DUTA/RADAR BOJONEGORO)
PENGHAYATAN: Anak-anak yang merupakan jemaat Gereja Katolik Paroki Santo Pius X Blora menjalani prosesi visualisasi jalan salib, Kamis (2/4). (RAHUL OSCARRA DUTA/RADAR BOJONEGORO)

 

RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM - Langkah-langkah kecil itu berjalan perlahan, namun sarat makna. Di halaman Gereja Katolik Paroki Santo Pius X Blora, anak-anak dan remaja memanggul peran yang tak ringan: menghidupkan kembali kisah jalan penderitaan Yesus Kristus.

Kamis sore (2/4) itu, suasana berubah hening. Umat yang hadir mengikuti setiap perhentian dengan khidmat tepat di momen Kamis Putih yang merupakan salah satu rangkaian pekan suci menuju Paskah. Dari halaman gereja hingga masuk ke dalam, visualisasi jalan salib digelar dengan sederhana, namun menyentuh.

Tidak ada panggung megah, hanya penghayatan yang terasa kuat dari para pemeran muda. Yang membuatnya berbeda, seluruh adegan diperankan anak-anak dan orang muda Katolik. Mereka bergantian memainkan tokoh-tokoh dalam kisah penyaliban.

Ekspresi polos, kadang gugup, justru menghadirkan kejujuran yang mengena. Romo Benediktus Prima Novianto mengatakan, konsep ini sengaja dihadirkan untuk memberi pengalaman iman yang lebih dalam, terutama bagi generasi muda.

Baca Juga: Bikin Hati Adem! 30 Ucapan Jumat Agung 3 April 2026 yang Penuh Makna, Siap Dibagikan ke Grup WA Keluarga dan Jemaat

“Tahun lalu visualisasi dilakukan di Goa Maria Wireskat, Desa Sendangharjo. Tahun ini kami buat di lingkungan gereja agar ada variasi, tidak monoton,” ujarnya.

Menurutnya, perubahan lokasi bukan sekadar variasi teknis. Lebih dari itu, agar umat merasakan suasana yang berbeda sekaligus lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari di lingkungan gereja.

Seluruh pemeran merupakan anak-anak, remaja, hingga orang muda Katolik yang telah berlatih selama kurang lebih satu bulan. Proses latihan itu menjadi bagian penting bukan hanya mempersiapkan pementasan, tetapi juga membangun pemahaman iman.

“Anak-anak diajak menghayati bagaimana Yesus menderita demi menyelamatkan manusia. Mereka tidak hanya memainkan peran, tapi mencoba merasakan maknanya,” imbuhnya.

Melalui keterlibatan langsung, anak-anak belajar tentang pengorbanan, kasih, dan makna keselamatan. Nilai-nilai yang selama ini mungkin hanya didengar, kini mereka jalani dalam bentuk pengalaman.

Tak heran, sejumlah orang tua tampak haru menyaksikan jalannya visualisasi. Beberapa terlihat merekam, sebagian lain memilih diam, menikmati setiap adegan yang diperankan anak-anak mereka.

Bagi Romo Benediktus, inilah esensi dari kegiatan tersebut. Bahwa iman tidak hanya diajarkan lewat kata-kata, tetapi juga lewat pengalaman yang menyentuh hati. “Dengan cara ini, anak-anak diajak bersyukur. Menyadari bahwa keselamatan adalah anugerah Tuhan yang diberikan secara cuma-cuma,” jelasnya.

Visualisasi jalan salib itu dihadiri umat Katolik dari berbagai wilayah di Kabupaten Blora. Mereka datang bukan sekadar menonton, tetapi ikut larut dalam permenungan. “Kami bersyukur latihan sebulan ini bisa berjalan baik dan ditampilkan dengan lancar. Apalagi disaksikan langsung oleh orang tua mereka,” tambahnya. (hul/bgs)

Editor : Yuan Edo Ramadhana
#kamis putih #yesus kristus #katolik #jumat agung #gereja