Oleh:
Slamet Widodo
Guru MTs. Negeri 3 Bojonegoro
Siang itu, di penghujung Ramadan hari kedua puluh delapan, langit Laraswangi membentang cerah. Cahaya matahari jatuh lembut di halaman rumah Pak Haji Zainal, seakan turut menyaksikan hari istimewa yang sedang dipersiapkan.
Sejak usai jamaah Zuhur, keluarga dekat mulai berdatangan. Ruang tamu dipenuhi percakapan hangat, sementara para pemuda menggelar karpet dan menata perlengkapan seadanya. Di sudut ruangan, dekorasi sederhana bernuansa putih dengan bunga-bunga plastik warna-warni dipasang rapi. Set dekorasi itu milik Ilham, calon pengantin putra, yang tampak bersahaja namun penuh kesungguhan.
Afna hilir-mudik membantu. Sesekali ia merapikan kerudungnya dan tersenyum kepada para tamu. Senyumnya merekah tenang—senyum seorang gadis yang bersiap meninggalkan masa lajangnya. Beberapa santri putri, teman mondoknya, turut membantu menata ruangan untuk pesta kecil itu.
Meja pendek untuk akad diletakkan di tengah ruang tamu. Taplak dirapikan, mikrofon diuji seperlunya. Tak ada kemewahan, hanya kesederhanaan yang khusyuk dan khidmat. Dari dapur, aroma bawang goreng dan santan mendidih menyatu dengan harum sore Ramadan yang hampir pamit.
“Kak Afna, harus siap lahir batin, ya…” ujar Nada lembut.
Afna tersenyum. “Terima kasih, Nad. Semoga kamu segera menyusul dengan Kang Sulton.”
Nada sahabatnya itu tersipu. “Amin… terima kasih banyak atas doanya, Kak.”
Azan Asar pun berkumandang dari masjid kebanggaan warga Laraswangi, suaranya menyentuh sela-sela kesibukan sore itu.
Tak lama, Abah Muhtadin dan Umik tiba. Mereka disambut penuh takzim.
“Sugeng rawuh, Abah, Umik,” ucap Pak Haji Zainal hangat. Lalu meraih tangan Abah dan menciumnya.
“Anakku Afna di mana?” tanya Umik tanya kepada para santri putri yang menyambut di depan pintu.
“Masih di dalam kamar, Mik,” jawab Nada pelan penuh takzim.
Afna dan ibunya segera keluar. Matanya berkaca-kaca ketika mencium tangan Umik dan memeluknya erat. Umik membalas pelukan itu dengan hangat. Disusul pelukan ibunya Afna yang tak kalah haru. Keluarga Pak Haji Zainal merasa sangat terhormat. Pernikahan putri mereka dihadiri langsung oleh pengasuh Pondok Pesantren Al-Husna, tempat Afna menimba ilmu dan mengabdi selama ini.
“Kamu sudah siap lahir batin, Ndhuk?” bisik Umik.
“Insya Allah… pangestu panjenengan kulo suwun, Mik.”
“Jaga hafalanmu. Meski sudah menikah, tetap murojaah,” pesan Umik lembut.
Air mata Afna menggenang. Amanah itu sederhana, namun terasa dalam.
Setelah itu, Abah dan Pak Haji Zainal menuju masjid untuk salat Asar berjamaah. Umik dan para santri putri menyusul. Mereka berjalan pelan menyusuri jalan desa yang mulai lengang, angin sore menggerakkan ujung kerudung Afna.
“Calon suamimu belum datang, Ndhuk?” tanya Umik lirih.
“Dereng, Mik. Katanya berangkat seusai jamaah Asar,” jawab Afna penuh takzim.
Langit Laraswangi berwarna keemasan. Seolah alam menahan napas, menanti takdir yang sebentar lagi mengetuk pintu.
*
Pada pukul 15.30, rombongan pengantin lelaki tiba di rumah Pak Haji Zainal. Ilham mengenakan kemeja koko putih, bersarung batik, berkopiah hitam, dan bersandal sederhana khas santri. Kesederhanaannya justru memancarkan kewibawaan. Wajahnya teduh bercahaya, sorot matanya penuh takzim, dan senyumnya merekah dalam ketenangan yang dalam. Ia melangkah menuju rumah calon mertuanya, diiringi keluarga besar.
Keluarga Pak Haji Zainal berdiri menyambut kedatangan calon besan dengan hangat. Jabat tangan berpindah dari satu tangan ke tangan lain, menyambung silaturahmi yang kelak menjadi ikatan kekerabatan.
Ilham menunduk mencium tangan Abah Muhtadin. Sang kiai membalas dengan tepukan lembut di pundaknya—restu seorang guru kepada santri yang kini menapaki fase baru kehidupannya.
Tak lama kemudian, penghulu dari KUA setempat tiba. Ia mengenakan jas rapi dan kopiah hitam. Tas berisi berkas administrasi tergenggam di tangan kirinya. Bersamanya hadir petugas pencatat nikah. Setelah saling menyapa dalam suasana kekeluargaan, penghulu meminta kedua calon pengantin, wali, dan saksi untuk bersiap.
Afna keluar dari kamarnya. Ia tampak ayu dalam balutan gaun sederhana yang dipesan jauh-jauh hari. Riasan tipis menghiasi wajahnya, namun bukan itu yang membuatnya bersinar—melainkan ketenangan dan keyakinan yang terpancar dari sorot matanya.
Segala sesuatu telah disiapkan. Mahar berupa sejumlah uang dan perhiasan terletak rapi di hadapan mereka.
Setelah perbincangan singkat, penghulu mempersilakan Abah Muhtadin untuk menikahkan kedua santrinya.
Acara diawali dengan pembukaan, dilanjutkan khotbah nikah yang dibacakan paman Ilham. Dalam sambutannya, penghulu menyampaikan bahwa hari itu, di kecamatan wilayah kerjanya, terdapat dua puluh lima pasangan yang akan melangsungkan akad nikah—sebuah pengingat bahwa pernikahan adalah sunah yang terus hidup dan diwariskan.
Detik-detik khidmat pun tiba.
Ilham menjabat erat tangan Abah Muhtadin sebagai wali. Dua tangan itu bertaut, menghubungkan amanah, doa, dan tanggung jawab. Afna duduk bersimpuh di sisi kiri calon suaminya, menunduk dengan hati yang bergetar.
“Qobiltu nikahaha wa tazwijaha bil mahril madzkur…”
Lafaz itu terucap jelas dan mantap, tanpa jeda. Tidak tergagap, tidak pula ragu—seolah telah lama ia siapkan dalam sujud-sujud panjangnya.
“Bagaimana, saksi, sah?” tanya Abah.
“Sah…” jawab para saksi serempak.
“Alhamdulillah…” gema syukur memenuhi ruangan, mengalir ringan namun sarat makna.
Abah memimpin doa. Suaranya lirih, namun menembus hati. Usai berdoa, ia berpesan,
“Kalian kini telah sah sebagai suami istri. Pergaulilah pasanganmu dengan kebaikan karena Allah SWT. Jaga hafalan Al-Qur’an kalian. Meski telah menikah, jangan tinggalkan murojaah. Semoga Allah menganugerahkan kepada kalian keturunan saleh dan salehah, hafiz dan hafizah, yang menyejukkan pandangan.”
Rumah Pak Haji Zainal dipenuhi kehangatan dua keluarga yang kini dipersatukan. Canda dan percakapan lembut mengalun, menanti waktu berbuka puasa.
Di luar rumah, bocah-bocah Laraswangi berlarian riang. Ditemani orang tua mereka, colok-colok kecil dinyalakan. Bilah bambu dibalut kain yang telah dicelup minyak tanah, lalu disulut api. Satu per satu cahaya kecil berdiri di sudut halaman, di depan pintu, di ruang tamu, bahkan di dapur.
Halaman rumah Pak Haji Zainal pun berhias cahaya yang berkelip lembut.
“Iku jenenge dilah. Karep ben wedi marang Gusti Allah,” tutur Mbah Joyo perlahan.
“Nggih, Mbah. Leres. Kangge nyambut Lailatul Qadar, supados ati dados padhang,” sahut Abah Muhtadin.
Mereka duduk bersama di ruang tamu, menanti azan Magrib dengan hati yang teduh.
*
“Cung, anakmu piye?” tanya Mbah Joyo pelan. Suaranya lembut, sarat perhatian seorang ayah kepada anaknya.
“Mereka sudah lama saling mengenal, Pak. Mengaji di pondok yang sama. Saya tak sampai hati memisahkan mereka,” jawab Pak Haji Zainal lirih, seakan setiap kata lahir dari pertimbangan yang dalam.
Mbah Joyo mengangguk perlahan. “Anakmu ketemu selawe. Miturut petungan Jawa, iku kurang apik. Kudune diendhani,” ujarnya hati-hati. Bukan untuk menolak, melainkan mengingatkan agar segala sesuatu tetap selaras dengan adat yang diwariskan.
Pak Haji Zainal terdiam. Pandangannya menerawang, batinnya berkelindan antara amanah leluhur dan kebahagiaan putri yang amat ia cintai.
Hening menggantung sesaat.
“Yen ngunu… nikahno malam sanga wae,” tutur Mbah Joyo akhirnya, menawarkan jalan tengah dengan kebijaksanaan seorang sepuh.
Usul itu tidak terdengar sebagai penolakan, melainkan sebagai ikhtiar merangkul dua sisi kehidupan—syariat yang telah sah ditegakkan dan adat yang tetap ingin dihormati.
Kalimat itu melayang pelan di antara mereka, menjadi simpul halus antara keyakinan, tradisi, dan rasa.
“Nggih, Pak. Insya Allah,” jawab Pak Haji Zainal mantap.
“Yen ngunu, ndang sowan Kiai Muhtadin. Nyuwun pangestu kanggo anakmu,” pesan Mbah Joyo.
Tanpa menunda, Pak Haji Zainal pun sowan kepada Kiai Muhtadin untuk menyampaikan niat baiknya. Ia datang bersama istrinya, memohon nasihat dan doa restu.
“Nggih, monggo. Malam sanga niku malam ingkang sae. Apalagi untuk niat yang baik. Insya Allah, doa-doa langkung cedhak kaliyan ijabah,” tutur Abah Muhtadin tenang.
Ucapan itu menjadi peneduh hati. Seakan menegaskan bahwa selama niat dijaga dalam kebaikan, Allah-lah sebaik-baik Penentu takdir. (*)
Laraswangi, 23 Februari 2026
Editor : Yuan Edo Ramadhana