Oleh:
Khoirul Abidin
Penulis Lahir dan Tinggal di Lamongan
Hari masih agak lembab ketika aku dan ketiga tengik ini tiba di Kalidowo di sekitar bibir desa. Beberapa orang bersepeda lewat dan menyisakan jejak ban pada jalan yang belum sempat kering. Kurang lebih 2 meter ke depen, satu dua wajah yang tampak kusam ada juga di sana, seperti minggu-minggu sebelumnya; memegang gagang pancing, menghisap-embuskan asap rokok, menunggu ikan-ikan lapar.
“Aku berani bertaruh. Bahkan sampai sore habis, paling banyak kau pasti cuma dapat empat ekor ikan.”
Aku tahu itu cuma gurauan. Sebuah hubungan, entah pertemanan atau yang lainnya, memang terasa hangat dan hidup dengan canda-tawa. Beberapa mungkin dengan tanpa sengaja jadi luka orang lain, namun yang pasti, menjadikan candaan sebagai tameng untuk menyakiti orang lain adalah bentuk sebuah kejahatan.
Aku tersenyum kecil menanggapi kemakian salah seorang tengik itu. Aku sungguh tidak terganggu dengan ucapan itu. Terkait berapa ikan yang nanti akan aku dapat, tidaklah penting-penting amat. Buatku, yang menyenangkan dari memancing bukanlah dapat banyak ikan, melainkan ketika kail pancingku ditarik oleh ikan yang kemudian menjadikan kami saling berjuang, mengatur strategi, beradu kekuatan dan ketangkasan untuk memperebutkan kemenangan dalam pertarungan kecil yang mendebarkan. Dan tetengik itu tak akan pernah paham tentang ini.
Di kepala orang-orang seperti ini, segala hal pastilah dilihat pada hasil akhirnya. Perjalanan dan proses tak akan berarti apa-apa ketika hasilnya tidak sesuai dengan yang diinginkan. Mereka tak tahu, bahwa yang menjadikan keberhasilan bermakna adalah hal-hal yang bersifat tidak enak. Dan seandainya dengan detail dan perlahan menjelaskan tentang ini, aku yakin, mereka tak akan mau mendengar dan hanya akan tertawa.
Seekor burung melintas dengan tergesa, seakan ada yang menunggu dan harus dikejar. Air Kalidowo sedikit berayun disentuh angin. Si tengik lain dengan pengalaman dan pengetahuannya—akunya waktu kutanya pada hari pertama aku memancing—meracik lumut dengan bumbu penyedap makanan sasetan setelah diberi sedikit air. Kemudian membaginya ke dalam empat ember mungil dan kami mulai membuat jarak satu sama lain. Sambil membakar sebatang rokok, aku mencari tempat yang nyaman.
Senyum kecil dan beberapa patah kata menyeruak sejenak ketika aku melewati wajah-wajah kusam itu; basa-basi pada umumnya. Aku duduk di pangkuan sebatang singkong yang daun-daunnya seperti minta dipetik. Langit lebih cerah, air Kalidowo semarak oleh kecipak ikan-ikan, dan tengik-tengik itu terasa seperti hampir tiap detik melempar lirik ke arahku; lirikan-lirikan yang seolah menginginkan pembuktian. Persetan!
Tujuan, dalam segala hal, selalu menentukan persetujuan dan penolakan. Ketika tujuannya sama, maka sangat mungkin untuk dua atau lebih orang bersatu. Dan itu berlaku sebaliknya. Tetengik itu mungkin berharap bisa membawa pulang banyak ikan. Wajah-wajah kusam itu mungkin juga demikan. Atau mereka sebenarnya hanya tidak tahu bagaimana cara menghabiskan waktu luang? Yang pasti, aku memancing bukan untuk itu.
Memancing, bagiku, bukan sekadar mengisi waktu, bukan hanya tentang mendapatkan ikan, dan bukan pula sebuah pelarian dari sejumlah kebosanan. Jika keberangkatan memancingku ini adalah untuk dapat ikan, apalagi yang banyak, tentu aku tidak bakal melakukannnya. Tiga ekor ikan dalam waktu enam jam kurasa sudah cukup untuk membuatku kapok. Itu adalah awal yang buruk jika tujuan memancingku sejak dulu adalah dapat ikan. Tidakkah lebih baik membeli 1 kg mujair di pasar dan menggunakan waktu enam jam untuk bekerja? Kalau hanya 1 kg, kurasa satu atau paling lama dua jam kerja sudah bisa. Dan aku masih punya setidaknya empat jam untuk melakukan kegiatan-kegiatan lain yang menyenangkan.
Aku tertarik memancing lagi karena aku menemukan sesuatu yang menyenangkan yang tidak kutemukan dalam kegiatan-kegitan lain yang pernah kulakukan. Semacam denyut yang membuat darahku menjadi hangat. Semacam getar yang membuat hariku lebih segar. Seperti debar yang membuat aku ingin merasakannya lagi, lagi, dan lagi.
“Hei, lihat ini!” Kepadaku, seekor mujair yang belum dilepaskan dari kail pancing di arahkan oleh seorang tengik. Aku mengangguk, anggukan biasa, semata agar ia puas dan tidak merasa terabaikan. Sementara tengik-tengik lain melontarkan kalimat-kalimat dahsyat seolah itu adalah keberhasilan besar yang wajib dirayakan. Dan wajah-wajah kusam itu memberi pandangan-pandangan mengiyakan. Kebiasaan orang pada umumnya yang untukku cukup memuakkan.
Kesenyapan yang belum lama terbentuk seketika pecah dibelah kata-kata. Cerita demi cerita perihal memancing pun tercipta seperti gumpalan awan. Seakan sama-sama enggan kalah dari yang lain, tiap mulut berusaha menyuguhkan masing-masing kehebatan. Mengisahkan masa lalu, menarik hari-hari yang jauh. Bahwa pada waktu itu, pada saat itu, pada hari itu, aku pernah dapat mujair sebesar kepala sapi, kail pancingku pernah patah dan aku sangat yakin itu pasti ikan yang besar sekali, dan pernah-pernah yang lainnya. Pemandangan yang teramat lumrah dalam sebuah perkumpulan. Pengakuan orang lain memang sering mendatangkan kepuasan dan karena itu tak jarang orang-orang terperosok untuk mendapatkannya.
Aku tetap tenang. Mungkin lebih tepatnya tetap terlihat tenang. Sebagai laki-laki, aku memang menuntut diriku untuk selalu tenang bahkan dalam keadaan-keadaan paling sulit dan cenderung tidak. Dalam segala hal, ketenangan seringkali menyelamatkan, meski mungkin tidak sepenuhnya.
Puluhan menit telah berlalu dan belum ada pergerakan yang berarti. Di antara sengak suara dan aroma tembakau, rasa lelah dan bosan perlahan membujukku untuk pergi. Tidak, kataku dalam hati. Mungkin hanya belum waktunya. Ketika waktunya telah tiba, aku yakin, apapun yang dinanti akan selalu bisa menemukan jalannya sendiri untuk datang.
Ke tengah Kalidowo, kembali kulempar kail pancing untuk kali kesekian. Aku bertahan di sini bukan karena takut dikatakan tengik-tengik itu lemah. Aku bahkan sama sekali tidak peduli dengan apapun yang diucapkan mereka. Yang aku lakukan hanyalah melawan diri sendiri.
Yang aku tahu, dalam segala hal, yang panjang dan melelahkan adalah perjalanan. Bosan adalah perasaan biasa yang sering tertemukan. Dan mampu melewati kebosanan sudah merupakan kemenangan.
“Kau itu mancing atau menghabiskan umpan saja,” pekik tengik sembari mendaratkan mujair kelimanya.
Rata-rata perolehan mereka sama, sepengelihatanku. Tidak banyak juga menurutku jika dikalkulasikan dengan waktu yang sudah dihabiskan. Namun suara mereka begitu menggelegar, seolah-olah keberhasilannya itu layak dibanggakan dan dipuji. Jika dibandingan denganku, itu memang benar. Namun tentu itu tak sepadan. Sejak awal aku bukan lawan mereka. Sejak awal, dalam ini, aku sudah kalah. Jika bisa berpkir, mereka pasti tahu, bahwa pertarungan mereka sesungguhnya bukanlah denganku, melainkan dengan waktu.
Kali ini aku sama sekali tidak menggubris. Tidak, aku tidak marah. Toh aku tidak merasa tersinggung. Ucapan itu hanya angin lalu bagiku. Aku malas saja berbicara untuk sesuatu yang sia-sia. Orang-orang semacam ini tidak akan pernah bisa diam oleh omongan. Dan akan semakin menjadi-jadi bila dibalas dengan omongan. Jadi, sungguh percuma jika harus menguras banyak kata. Orang-orang seperti ini hanya akan bungkam oleh tindakan. Namun aku pun tak hendak membuktikan apa-apa. Lagipula, selain dengan uluran tangan Tuhan, mana mungkin aku bisa menampar muka meraka dengan puluhan ekor mujair.
Ya, di hadapan keberuntungan, kemampuan dan pengalaman memang tidak ada artinya. Tapi, langsung bergantung pada itu kupikir adalah hal yang lucu sekaligus tolol. Keberuntungan dan kemampuan adalah dua hal yang berbeda jalur. Keberuntungan dan pengalaman memiliki jalan sendiri-sendiri. Itu berarti harus ada usaha-usaha yang dilakukan sebelum akhirnya menyerahkan pada nasib.
Terasa wajahku menebal oleh debu dan ada rasa gatal di beberapa bagian tubuhku yang mulai berkeringat. Tiba-tiba aku membayangkan, di dalam sana di antara bebatuan dan sampah-sampah yang berat, ikan-ikan sedang berunding tentang umpan yang kami tawarkan. Sebagian sepakat menyebut, umpan-umpan tersebut cuma tipu muslihat manusia. Beberapa dengan lantang bilang, “Hidup yang tidak dipertaruhkan tidak akan berarti apa-apa.” Aku tertawa geli dalam hati. Menahan diri untuk menghindari atau tidak mendekati sesuatu yang kepadanya kita butuh, tentu bukan hal yang mudah.
Rasanya darahku seperti terbakar ketika akhirnya senar pancingku meliuk-liuk meruntuhkan ketenangan permukaan Kalidowo. Seluruh tubuhku seolah mendidih dan aku menikmati setiap detik yang berjalan. Seperti anak kecil yang dibelikan oleh ayahnya mainan baru, mataku berbinar dan hatiku bersuka-cita. Namun perasaan itu segera hilang ketika aku mulai berpikir antara terus membiarkan atau mengakhiri pertarungan ini. Tidak, aku tidak takut jika akan kembali gagal. Aku gelisah karena aku tidak yakin apakah ketegangan ini tidak lebih berharga daripada hasil yang belum pasti. Memang, bagiku hasil akhir bukan yang utama, namun ketika sudah memutuskan untuk menarik kail dari dalam air, maka pada saat itu hasil yang memuaskan harus didapat.
Waktu terus berjalan dan keputusan harus dibuat. Layaknya hal lain, ketengangan yang terasa nikmat ini tidak akan selamanya bertahan. Dan kehilangan sesuatu setelah perasaan bahagia tumbuh tentu lebih buruk daripada mendapatnya. Maka pada waktu yang kukira tepat, dengan pengalaman hari kemarin, aku berusaha mendaratkan ikan itu dalam satu tarikan kuat. Seperti sebuah pertunjukan akbar dengan lakon utama aku, semua pasang mata memusat padaku.
Seolah angin menghindar, daun-daun luruh tak bergerak. Dan dengan wajah puas, tawa mereka meledak. Ikan itu berhasil melepaskan diri dari kail pancingku. Penantian panjang yang berujung percuma. Tawa dan kata-kata mereka tak berarti apa-apa. Yang aku sesali adalah ternyata aku telah terjebak dalam keindahan perjalanan yang sesaat. Kenikmatan memang seringkali membuat kita lupa, bahwa di sisi keindahan pasti selalu ada nganga luka. (*)
Editor : Yuan Edo Ramadhana