Dua SPPG di Bojonegoro Terpaksa Tutup, Dipicu Dana Pusat Tersendat

Yana Dwi Kurniya Wati • Dipublikasikan Jumat, 18 September 2026 | 08:25 WIB
MENU MBG: Salah satu contoh menu lengkap MBG dari SPPG Ngawen.
MENU MBG: Salah satu contoh menu lengkap MBG dari SPPG Ngawen.

RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM – Berdasarkan data dari dinas kesehatan (dinkes), di Kabupaten Bojonegoro tercatat 147 dapur satuan pelayanan pemenuhan gizi (SPPG).

Namun, tak semua berjalan hingga kemarin (16/9). Sebab, belum menerima kucuran dana dari pemerintah pusat.

Koordinator Wilayah (Korwil) SPPG Bojonegoro Tommy Mandala Putra mengatakan, SPPG aktif saat ini sebanyak 145 SPPG. Sedangkan, dua SPPG lainnya tidak aktif sementara, karena uang pusat belum turun.

‘’Untuk jumlah SPPG yang sudah berdiri saya belum bisa memastikan jumlahnya. Kalau yang dua SPPG itu sampai saat ini uangnya belum turun,” kata Tommy sapaannya, Rabu (16/9).

Menurut dia, dua SPPG tersebut di antaranya SPPG Bojonegoro Dander Sumberarum 3 dan SPPG Bojonegoro Dander Ngraseh. Perihal kapan dana cair, ia tak bisa memastikan. Lantaran kewenangan pemerintah pusat.

‘’Perihal belum turun uangnya ini dari pusat. Sistem top up. Jadi kapan turun belum tahu, menunggu saja untuk saat ini,” katanya.

Baca Juga: Sebabkan Keracunan Ratusan Siswa, SPPG Sukorejo 2 Ditutup Permanen

Sebelumnya, Kepala Dinkes Bojonegoro Ninik Susmiati mengatakan, total SPPG beroperasi di Bojonegoro sebanyak 147 SPPG. Memiliki sertifikat laik higiene sanitasi (SLHS).

Namun, belum semua mengecek ulang sampel air dan makanan di laboratorium (lab). Sehingga pihaknya akan berkirim surat lagi pekan depan.

‘’Sudah kami berikan SE (surat edaran) bupati terkait IKL (inspeksi kesehatan lingkungan) dan cek lab ulang. Namun, tidak semua mengajukan, makanya mau kami surati lagi. Semoga Senin (21/9) depan sudah diterima semua kepala SPPG,” katanya.

Sementara itu, kasus keracunan makan bergizi gratis (MBG) membuat was-was sejumlah murid, termasuk di Bojonegoro. Sebab, tak luput dari kasus tersebut. Berdasar data dihimpun, di antaranya pada 24 September 2025, sebanyak tujuh siswa SDN Semanding, Kecamatan Kota dilaporkan mengalami mual, pusing dan sakit perut setelah mengonsumsi makanan MBG.

Sehari kemudian, 25 September 2025, sebanyak 150 siswa SMPN 2 Balen dilaporkan mengalami sakit perut dan tidak masuk sekolah setelah mengonsumsi makanan MBG.

Keluhan dengan jumlah siswa terdampak lebih besar kemudian dilaporkan di Kecamatan Kedungadem. Pada 1 Oktober 2025, sebanyak 544 siswa SMAN 1 Kedungadem dilaporkan mengalami keluhan setelah menyantap menu MBG. Keluhan yang muncul antara lain mual, pusing, sakit perut hingga diare.

Laporan serupa kemudian muncul dari sekolah lain yang menerima makanan dari SPPG di wilayah Kedungadem. Pada 2 Oktober 2025, sejumlah siswa SDN Tumbrasanom dilaporkan mengalami keluhan kesehatan. Laporan awal menyebut tujuh siswa terdampak, sementara data lainnya mencatat empat siswa mendapat penanganan. Pada hari yang sama, sekitar lima hingga enam siswa MTs Plus Nabawi juga dilaporkan mengalami keluhan serupa.

Rangkaian kejadian di Kedungadem menjadi perhatian setelah hasil pemeriksaan laboratorium menemukan bakteri Escherichia coli (E. coli) pada sampel makanan dari dua SPPG yang memasok makanan ke sekolah-sekolah tersebut.

Baca Juga: 147 SPPG Bojonegoro Diminta Cek Ulang Kelayakan

Keluhan setelah konsumsi MBG kembali dilaporkan pada 28 November 2025. Sekitar 30 siswa di lingkungan MAN 1 dan MAN 2/Pondok Pesantren Al-Falah, Desa Pacul, Kecamatan Kota, dilaporkan mengalami sakit perut dan diare. Sebanyak 18 siswa di antaranya sempat mendapat penanganan di IGD.

Memasuki 2026, laporan kembali muncul di Desa Tikusan, Kecamatan Kapas, pada 15–16 April 2026. Sebanyak 17 penerima manfaat dilaporkan mengalami keluhan setelah menyantap menu MBG yang berasal dari SPPG Plesungan 2. Mereka terdiri atas sembilan siswa sekolah dasar, empat anak TK/Posyandu dan empat ibu hamil. (yna/msu)

Editor : Bhagas Dani Purwoko
tutup dana SPPG bojonegoro Mbg