BOJONEGORO, Radar Bojonegoro - Program gerakan ayam petelur mandiri (Gayatri) sudah berlangsung selama setahun. Berbagai persoalan program ini terus mengemuka. Mulai ayam yang mati, dijual oleh penerima manfaat hingga mahalnya biaya pakan. Namun, persentase permasalahan tersebut masih tergolong rendah.
Sekretaris Disnakkan Bojonegoro, Elfia Nuraini, mengatakan berdasarkan laporan yang diterima, angka kematian ayam Gayatri secara keseluruhan masih berada di bawah 5 persen.
Kematian ayam dipicu sejumlah faktor, di antaranya heat stress atau kondisi suhu lingkungan yang melebihi 28 derajat Celsius sehingga ayam kesulitan membuang panas tubuh. Selain itu, terdapat penyakit snot atau infeksi saluran pernapasan menular yang disebabkan oleh bakteri.
Wakil Ketua Komisi B DPRD Bojonegoro Lasuri mengatakan, Program Gayatri dan program domba kesejahteraan secara umum sudah berhasil. Meskipun ada kasus ayam dan domba yang dijual oleh penerima manfaat. Namun, jumlahnya relatif kecil.
‘’Artinya dari ribuan KPM yang diberikan Gayatri maupun domba kasus dijual itu sangat kecil dibanding dengan yang masih utuh,’’ tutur Ketua DPD PAN Bojonegoro itu.
Meski demikian, lanjut Lasuri, bukan berarti program Gayatri sudah tidak memiliki persoalan serius. Salah satu yang harus dipikirkan Pemkab Bojonegoro adalah menekan biaya pakan. Sebab, pakan ayam pabrikan harganya cukup mahal. Hal itu membuat para penerima ayam Gayatri kerap kesulitan.
‘’Tinggal sekarang ini intervensi dari pemkab terkait pengadaan pakan ayamnya,’’ tutur pria asli Baureno itu.
Ia memiliki dua rekomendasi terkait itu. Pertama memberikan subsidi pakan dan kedua adalah memberikan mesin pembuat pakan. Jika hal itu diterapkan oleh pemkab, maka penerima manfaat akan terbantu. Sebab, biaya pakan yang mahal membuat keuntungan peternak tertekan.
Menurut Lasuri, pemkab bisa segera merealisasikan dua alternatif cara tersebut tahun ini. Anggarannya bisa dialokasikan dari dana CSR. Baik BUMD maupun perusahaan swasta. ‘’Bukan APBD,’’ jelasnya. (zim)
Editor : M. Nurkhozim