RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM - Meski jumlah usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di Bojonegoro terus mengalami peningkatan sejak lima tahun terakhir.
Justru fakta tersebut menegaskan, bahwa peran UMKM sebagai penopang perekonomian daerah dan lapangan kerja alternatif.
Bahkan, fenomena peningkatan jumlah UMKM itu tidak bisa lepas dari dampak pandemi Covid-19. Juga adanya gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) melanda sektor formal, membuat warga Bojonegoro beralih profesi menjadi wirausaha.
Diketahui, berdasar satu data Dinas Perdagangan, Koperasi, dan Usaha Mikro (Dindagkop UM) Bojonegoro, total jumlah UMKM di Bojonegoro pada 2020 sebanyak 78.012.
Meningkat menjadi 80.637 UMKM pada 2021; 86.820 UMKM di 2022; 91.390 UMKM di 2023; dan 91.728 UMKM pada 2024. Dibanding dengan jenis usaha lainnya, jumlah UMKM paling mendominasi.
’’Tumbuhnya UMKM itu ya karena sedikitnya lapangan kerja. Bahkan, banyak pekerja yang dirumahkan. Lapangan kerja yang paling efektif sekarang ini ya menciptakan lapangan kerja sendiri dengan membuat produk-produk UMKM,” ungkap Ekonom Bojonegoro Agung Hirmantono.
Mantan Ketua STEI Permata itu menambahkan, UMKM di Bojonegoro berpeluang menjadi motor utama ekonomi daerah.
Seperti produk UMKM ini bisa ada di toko modern sebagai bagian dari promosi UMKM Lokal. ’’Tapi, masih banyak didominasi oleh perusahaan besar nasional yang produknya ada di toko modern,” imbuhnya.
Menurutnya, tugas dari pemerintah sekarang adalah memfasilitasi produk-produk UMKM ini bisa menembus kancah nasional atau bahkan bisa masuk bersaing dengan dunia Internasional.
Selama bisa bersinergi dengan Pemerintah, UMKM akan banyak bertumbuh dan tingkat perekonomian akan membaik. ’’Tidak harus setelah lulus SMK/SMA sederajat untuk melamar kerja,” pungkasnya. (dan/bgs)
Editor : Bhagas Dani Purwoko