Daerah Ekonomi Gemas Haji & Umrah Headline News Internasional Kawan Cilik Kesehatan Kuliner Lentera Islam Mbakyu Nasional Opini Otomotif Pendidikan Peristiwa Persepsi Politik & Pemerintahan Redaksi She Sportainment Tausiah Ramadan Teknologi Weekend Wisata Yuk

Hutan Jati Bojonegoro: Di Balik Julukan Kota Jati, Ada Sejarah Panjang dan Nadi Kehidupan Warga

Bhagas Dani Purwoko • Kamis, 7 Agustus 2025 | 02:44 WIB
BERBURU: Setiap pagi kawasan hutan jati di selatan Bojonegoro kerap dikunjungi masyarakat yang berburu enthung jati. Tak hanya dikonsumsi pribadi, tapi ada juga yang menjualnya.
BERBURU: Setiap pagi kawasan hutan jati di selatan Bojonegoro kerap dikunjungi masyarakat yang berburu enthung jati. Tak hanya dikonsumsi pribadi, tapi ada juga yang menjualnya.

RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM – Siapa pun yang melintasi wilayah selatan Bojonegoro akan disuguhi pemandangan yang khas: barisan pohon jati (Tectona grandis) yang menjulang kokoh dan membentang sejauh mata memandang. Hamparan inilah yang menjadi alasan utama mengapa Bojonegoro begitu lekat dengan julukan "Kota Jati".

Namun, hutan jati ini lebih dari sekadar lanskap atau sumber kayu. Ia adalah warisan sejarah, pilar ekonomi, arena interaksi sosial yang kompleks antara negara dan rakyat, serta ekosistem yang rapuh. Mari kita telusuri lebih dalam makna sesungguhnya dari 'emas hijau' yang menjadi identitas Bojonegoro ini.

hamparan 'Emas Hijau': Skala dan Pengelolaan oleh Perhutani

Kawasan hutan di Bojonegoro didominasi oleh hutan jati dan dikelola oleh negara melalui Perum Perhutani. Luasnya mencapai puluhan ribu hektare, yang secara administratif terbagi dalam dua wilayah kerja utama:

Kedua KPH inilah yang bertanggung jawab atas seluruh siklus pengelolaan, mulai dari pembibitan, penanaman, pemeliharaan, penjagaan dari pembalakan liar, hingga penebangan terencana sesuai prinsip kelestarian.

Jejak Sejarah: Dari Eksploitasi Kolonial ke Pengelolaan Modern

Pengelolaan hutan jati secara sistematis di Jawa, termasuk Bojonegoro, berakar pada masa kolonial Belanda. Saat itu, kayu jati dari Jawa dianggap sebagai salah satu yang terbaik di dunia, terutama untuk industri perkapalan. Pemerintah Hindia Belanda melalui Djawatan Kehutanan (cikal bakal Perhutani) melakukan eksploitasi besar-besaran namun juga meletakkan dasar-dasar inventarisasi dan pengelolaan modern.

Setelah kemerdekaan, pengelolaan ini dilanjutkan oleh Pemerintah Indonesia melalui Perhutani, dengan fokus yang bergeser dari sekadar eksploitasi menjadi pengelolaan yang bertujuan untuk manfaat ekologi, sosial, dan ekonomi.

Nadi Perekonomian: Manfaat Langsung dan Tidak Langsung

Hutan jati adalah motor penggerak ekonomi yang signifikan bagi Bojonegoro, baik secara formal maupun informal.

Hutan untuk Rakyat: Era Baru Lewat Perhutanan Sosial

Hubungan antara warga desa dan hutan tidak selamanya mulus. Isu akses lahan seringkali memicu konflik di masa lalu. Untuk mengatasi ini, pemerintah meluncurkan program Perhutanan Sosial.

Di dalam kawasan Perhutani, program ini diwujudkan melalui kemitraan dengan Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH). Melalui skema ini, masyarakat desa mendapatkan hak akses legal untuk mengelola dan memanfaatkan sebagian lahan hutan (biasanya untuk tumpangsari) dengan syarat mereka juga wajib ikut menjaga kelestarian hutan.

Program ini bertujuan untuk mengurangi konflik, memberantas kemiskinan di desa-desa sekitar hutan, dan meningkatkan rasa memiliki masyarakat terhadap kelestarian 'emas hijau' tersebut.

Tantangan dan Masa Depan Hutan Jati

Di balik potensinya yang besar, hutan jati Bojonegoro menghadapi berbagai tantangan serius, seperti:

Masa depan Bojonegoro sebagai "Kota Jati" sangat bergantung pada kemampuan untuk mengelola sumber daya ini secara berkelanjutan—memastikan bahwa manfaat ekonomi dapat terus dirasakan tanpa mengorbankan fungsi ekologis dan sosialnya untuk generasi yang akan datang. (*)

Editor : Bhagas Dani Purwoko
#hutan #sejarah #perhutani #bojonegoro #Kehidupan #Kota Jati