RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM - Evaluasi pelaksanaan haji tahun ini memunculkan banyak catatan penting, terutama pada pengorganisasian di Tanah Suci. Mulai dari masalah hotel, konsumsi, hingga transportasi jemaah. Catatan penting utamanya ketika pelaksanaan puncak haji di Arafah, Muzdalifah, dan Mina (Armuzna).
Menurut Ketua Kelompok Bimbingan Ibadah Haji dan Umrah (KBIHU) Masyarakat Madani Sholikin Jamik, setelah silaturahmi kepada beberapa jemaahnya sepulang dari Tanah Suci.
Terdapat evaluasi pengorganisasian jemaah haji tahun ini lebih buruk di banding tahun sebelumnya. “Perjalanan haji pada waktu di Armuzna. Dimulai dari hotel, Arafah, Muzdalifah, Mina, sampai di hotel lagi. Boleh kami katakan bahwa pengorganisasian jemaah haji tahun ini yang paling tidak baik,” katanya.
Menurutnya, kurang baiknya sisi pengorganisasian disebabkan karena menerapkan banyaknya syarikah (kontraktor/pengelola swasta) tahun ini. Yakni, ditangani sekitar delapan syarikah dan kurang adanya koordinasi yang baik. Berbeda dengan tahun sebelumnya yang hanya menerapkan satu syarikah.
Dalam hal ini, syarikah bertanggung jawab penuh, mulai hotel, termasuk persoalan tenda di Mina dan Arafah saat puncak haji. Kemudian, transportasi dan konsumsi jemaah selama perjalanan ibadah haji.
“Dengan delapan syarikah yang ditunjuk pemerintah ini menambah semakin buruknya persoalan haji tahun ini. Karena antarsyarikah tidak bisa bekerjasama dan memiliki kebijakan sendirisendiri. Jemaah haji yang menjadi korban,” terangnya.
Baca Juga: Cara Unduh Sertifikat Haji 2025, Cukup Lewat HP! Begini Panduannya
Sholikin melanjutkan, hal menyedihkan juga dialami jemaahnya yang tergabung dalam kloter 67. Para jemaah diangkut dari Arafah menuju Muzdalifah pukul 01.00 dinihari. Dan, harus menunggu dengan susah.
Selain itu, bus yang seharusnya berhenti di Muzdalifah, namun malah jalan terus hingga ke Mina. Bahkan, ketika sampai di Mina, banyak yang diturunkan tidak pada lokasinya. Ada yang diturunkan di sebelah hingga belakang lokasi tenda Mina.
Bagi jemaah yang biasanya dari Arafah ke Muzdalifah turun. Juga, tidak ada kepastian diangkut ke Mina. Sehingga, banyak jemaah jalan kaki. Menyebabkan kondisi drop, sakit, hingga meninggal. Karena cuaca panas ekstrem.
“Ada juga yang dibawa ke hotel Makkah. Padahal saat itu masih 10 Zulhijjah. Jemaah haji seharusnya mabit di Mina pada 10-13 Zulhijjah. Ini contoh transportasi yang diberikan syarikah sangat buruk,” tambahnya.
Dia mengatakan, kerjasama antar syarikah tentang hotel juga terlihat.
Berbeda dengan tahun sebelumnya yang selalu dikelompokkan berdasar rombongan kloter. Tahun ini, dikelompokan berdasar visa yang masuk. Sehingga, per-KBIHU bisa berbeda hotel. Juga, berimbas pada konsumsi.
“Ini evaluasi besar terhadap pemerintah, terkait syarikah. Bahwa syarikah ini bertanggungjawab pada 3 hal dan bermasalah semua,” ujarnya.
Dia meminta, adanya perbaikan manajemen dari pemerintah untuk penyelenggaraan haji yang akan datang. Memutuskan hubungan dengan banyak syarikah.
Serta, mengembalikan persoalan penanganan hotel, konsumsi, dan transportasi hanya pada satu syarikah atau maksimal dua syarikah. “Agar koordinasi dan pemahamannya lebih baik,” pungkasnya. (ewi/msu)