RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM – Badan Pusat Statistik (BPS) Bojonegoro mencatat terjadi deflasi sebesar -0,41 persen pada Mei dibandingkan April. Hal ini menunjukkan, harga barang dan jasa mengalami penurunan sebulan terakhir.
Meski deflasi secara bulanan, namun secara tahunan (year-on-year/yoy) BPS mencatat bahwa Bojonegoro masih mengalami inflasi sebesar 1,00 persen jika dibandingkan dengan Mei tahun lalu (Mei 2024).
Kepala BPS Bojonegoro Kiki Ferdiana mengatakan, penyumbang utama inflasi tahunan ini berasal dari kelompok perawatan pribadi dan jasa. Dengan andil inflasi sebesar 0,32 persen.
"Kopi bubuk tercatat sebagai salah satu komoditas yang mendorong inflasi tahunan," terangnya.
Berdasarkan data BPS pada Mei lalu, kopi menjadi pendorong inflasi tahunan tertinggi dengan 0,36 persen. Di atas kelapa sebesar 0,29 persen dan perhiasan sebesar 0,27. Diikuti beras 0,16 persen dan bahan bakar rumah tangga 0,12 persen.
Sementara itu, deflasi Mei disebabkan oleh kelompok makanan, minuman, dan tembakau. Kelompok ini memberikan andil deflasi terbesar yakni 0,42%. Di antara komoditas dalam kelompok tersebut, cabai rawit menjadi penyumbang utama turunnya harga.
"Penurunan harga cabai rawit memberikan dampak paling besar terhadap turunnya angka inflasi secara bulanan atau month-to-month (mtm)," jelas Kiki.
Namun, dilihat dari awal tahun hingga Mei 2025 (year-to-date/ytd), Bojonegoro mencatat inflasi sebesar 0,85 persen. Ini menunjukkan bahwa secara umum, harga barang dan jasa sepanjang tahun ini masih relatif terkendali. (dan/zim)
Editor : M. Nurkhozim