RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM – Kemiskinan ekstrem di Kecamatan Tambakrejo tercatat 752 kepala keluarga (KK). Sesuai data mandiri masyarakat miskin daerah (Damisda) 2024, kecamatan kelahiran Bupati Setyo Wahono ini masuk ke dalam salah satu wilayah terbanyak kemisikinan.
Sebaran kemiskinan ektrem hampir merata di seluruh desa. Kecuali Desa Dolokgede. ‘’Untuk Kecamatan Tambakrejo jumlah kemiskinan ekstrem 752 KK,” kata Camat Tambakrejo Kasmari.
Menurut dia, angka tersebut akumulasi dari seluruh penduduk miskin yang tersebar di 17 desa, dari total 18 desa di Kecamatan Tambakrejo.
Hanya masyarakat terletak di Desa Dolokgede tidak termasuk kemiskinan ekstrem.
‘’Yang nihil (kemiskinan esktrem) Desa Dolokgede. Desa Napis salah satu desa miskin ekstrem,” kata mantan Camat Kapas itu.
Kepala Desa (Kades) Napis, Kecamatan Tambakrejo Mulyono mengatakan, warga di desanya belum sejahtera. Dipengaruhi pembangunan infrastruktur yang masih sulit. Terutama jembatan. ‘’Wilayah Napis masih sulit infrastruktur khususnya jembatan,” keluhnya.
Hampir setiap tahun Desa Napis mengajukan pembangunan dan dicek di lapangan. Namun, belum terealisasi. Menyebabkan akses ke sekolah sulit. Saat musim kemarau maupun hujan. Juga, saat mendistribusikan pupuk ke sawah saat musim hujan.
‘’Masih banyak kebutuhannya (jalan dan jembatan),” ujar Mulyono.
Namun, lanjut dia, sudah ada perubahan ekonomi di masyarakat. Dilihat dari hasil panen. Meski menggarap kawasan hutan. Dia berharap, ada realisasi pembangunan jalan dan jembatan di desanya. ‘’Sebetulnya ekonomi sudah jauh berubah. Tapi, masih terkendala infrastruktur. Semoga tahun ini bisa terealisasi,” harapnya.
Mulyono menambahkan, rerata pencaharian masyarakat sekitar merupakan petani dan buruh tani. Sekitar 90 persen dari penduduk desa. Dan 20 persen di dalamnya merupakan buruh tani.
‘’Mereka (warga) yang buruh tani rerata juga punya lahan pertanian meski di kawasan hutan. Kawasan hutan kami seluas 2.500 hektare,” pungkasnya. (yna/msu)
Editor : Yuan Edo Ramadhana