BOJONEGORO, Radar Bojonegoro – Warga Desa Sukowati, Kecamatan Kapas mengeluhkan aktivitas pengolahan tembakau PT Sata Tec. Perusahaan yang beroperasi sejak November 2024 itu, diduga mencemari udara sekitar. Aktivitas belajar mengajar di sekolah di ligkungan sekitar sempat terganggu.
Bahkan, pimpinan DPRD Bojonegoro sempat sidak pasca adanya warga yang dilarikan ke RSUD Bojonegoro, diduga akibat sesak napas, dan siswa SDN Sukowati juga harus diliburkan pada Rabu (15/1) lalu.
‘’Ternyata memang bau menyengat, dan cerobongnya pas keluar di SD,” ungkap Wakil Ketua III DPRD Bojonegoro Mitroatin kemarin (16/1).
Mitroatin menambahkan, hal itu harusnya perlu diantisipasi, mulai dari SOP hingga dampak lingkungan. Terlebih, ia menemukan adanya sejumlah perizinan yang belum diselesaikan.
‘’Kita tidak anti investasi, karena memang bisa mengurangi pengangguran. Namun, bagaiamana pun juga kita harus memerhatikan dampak lingkungan,” terangnya.
Sementara itu, Perwakilan PT Sata Tec Pristi Anjartami menyampaikan, bahwa pada awal pabrik berdiri sudah sempat dilakukan mediasi dengan warga dan sekolah, hingga muncul beberapa kesepakatan bersama.
‘’Kami sudah ada kompensasi, dan menyediakan kipas angin di ruang terbuka juga AC di ruangan kelas tertutup,’’ ujarnya.
Namun, terkait masih adanya keluhan warga akibat bau dari cerobong, pihaknya mengklaim akan mengakomodir keluhan tersebut dan terus melakukan perbaikan.
Terlebih, pabrik baru beroperasi sejak November 2024. ‘’Kalau terkait sekarang ini, kita proses tinggikan cerobong,’’ ungkapnya kepada Jawa Pos Radar Bojonegoro.
Terpisah, Narno, warga Desa Sukowati, Kecamatan Kapas, menyampaikan bahwa bau pabrik masih menggangu warga, dan terjadi sudah dua bulan terakhir.
Tak hanya warga, anak-anak sekolah juga terdampak hingga diliburkan. ‘’Dampaknya nyata, juga dirasakan anak saya di sekolah dan membuat proses belajar diliburkan,” ungkapnya. (dan/msu)
Editor : Yuan Edo Ramadhana