BOJONEGORO, Radar Bojonegoro – Peternak sapi dan kambing di Bojonegoro di perubahan musim hujan ke kemarau ini was-was. Sebab, hewan ternak rentan terkena penyakit. Diantaranya, penyakit Bovine Ephemeral Fever (BEF) atau demam, hingga heat stress.
Berdasar data dari Dinas Peternakan dan Perikanan (Disnakkan) Bojonegoro, tercatat 602 hewan ternak di Bojonegoro terserang penyakit BEF sejak Januari hingga April 2024. Di antaranya, sapi, domba, dan kambing.
Sedangkan, untuk penyakit heat stress belum ada kasus di Bojonegoro. Meski begitu, para peternak diimbau waspada.
Kepala Bidang (Kabid) Kesehatan Hewan, Pengolahan dan Pemasaran Hasil Peternakan Disnakkan Bojonegoro Luthfi Nurrahman mengatakan, di musim pancaroba seperti saat ini penyakit BEF rentan menyerang hewan ternak. Terlebih, pada cuaca terik seperti ini.
Penyakit BEF akan sangat mungkin terjadi, jika peternak tidak menyediakan air minum secara terus menerus kepada hewan ternaknya. Apalagi jika ditunjang dengan atap yang panas, seperti asbes atau seng.
‘’Terkadang para peternak kita itu meninggalkan sapi ke ladang atau sawah, tanpa menyediakan air minum. Hal tersebut akan membuat sapi, kambing, dan domba berkemungkinan besar terserang penyakit BEF,’’ paparnya.
Selain penyakit BEF, menurut Dokter Luthfi sapaannya, terdapat penyakit heat stress yang juga rawan menyerang hewan ternak di peralihan ke musim kemarau ini.
Penyakit heat stress terjadi karena cuaca panas yang menyebabkan hewan ternak ngos-ngosan. Ketika peternak tidak care, tidak akan penyadari bahwa itu salah satu gejala dari heat stres.
‘’Penyakit heat stress ini paling berbahaya. Terjadi karena cuaca dan mengarah kepada kematian mendadak karena kepanasan yang terlalu tinggi,’’ jelasnya.
Dia menambahkan, peternak perlu mewaspadai beberapa hal di musim kemarau seperti saat ini. Meliputi, kandang ternak harus ada sirkulasi udara yang lancar dan tidak terlalu panas ataupun lembab. Selain itu, kotoran harus selalu dibersihkan, terlebih mengingat kotoran air kencing pada hewan ternak mengandung urea. Paling penting, harus menyediakan air minum secara terus menerus. Air minum menjadi penting dan harus tercukupi.
‘’Selain itu, penyakit Lumpy Skin Dease (LSD) atau latolato juga tetap harus diwaspadai. Meskipun saat ini kasusnya sudah turun dan rendah, tapi tetap harus waspada,’’ pungkasnya. (ewi/msu)
Editor : Yuan Edo Ramadhana