Berdasar dokumen BNPB, Beberapa Kecamatan di Bojonegoro yang memiliki potensi di antaranya Kecamatan Bubulan; Dander; Gondang; Kasiman; Kedewan; dan Kedungadem.
Kemudian Kecamatan Malo; Margomulyo; Ngambon; Ngasem; Ngraho; Sekar; Sugihwaras; Tambakrejo, Temayang; dan Trucuk. Namun, 16 kecamatan tersebut dikategorikan dalam kelas bahaya rendah.
Jhoni Susanto, pegiat sejarah di Komunitas Bojonegoro Tempo Doeloe (KBTD) mengatakan, meski di Bojonegoro tidak ada gunung berapi. Namun, dalam catatan sejarah, aktivitas gempa beberapa kali terjadi dan tercatat dalam tulisan koran di masa kolonial. Seperti pada 9 Juli 1856, dan 13 Oktober 1868 yang tertulis di Javasche courant (surat kabar Belanda),” ungkapnya.
Dia menambahkan, gempa tercatat kembali di surat kabar Belanda yaitu De indiesche courant, pada 14 Mei 1935 silam. Kemudian pada masa setelah kemerdekaan, gempa berkekuatan 6 magnitudo sempat merusak wilayah Tuban juga dirasakan hingga Bojonegoro pada 19 Juni 1950 tercatat di United States Geological Survey (USGS). Gempa yang terjadi di Bojonegoro (12/6), bisa menjadi pelajaran serta kewaspadaan bersama,” ungkapnya.
Kepala BMKG Stasiun Meteorologi Tuban Zem Irianto menjelaskan, adanya data 7 titik sesar atau patahan di wilayah Jawa Timur. Salah satunya sesar kendeng dan Zona sesar RMKS yang melewati Bojonegoro. Namun, dirinya menegaskan aktivitas sesar lokal di pada gempa Senin lalu (12/6) hingga saat ini belum teridentifikasi.
Arhananta, ahli geologi asal Bojonegoro menambahkan, dalam konteks gempa tektonik, potensinya pasti tetep ada, karena posisi geologi Bojonegoro yang unik berada di zona sesar Kendeng dan sesar RMKS atau Rembang, Madura, Kangean dan Sakala. Selain itu juga terdapat sesar lokal yang menyertainya. Namun potensi gempa, tersebut sebatas gempa kecil yang tidak merusak. (dan/msu) Editor : M. Yusuf Purwanto