''Pengeboran minyak paling dalam 5 kilometer. Sedangkan, gempa terjadi di kedalaman 10 kilometer,” jelasnya.
Menurut Amien, sebelumnya pernah terjadi gempa merusak akibat sesar RMKS. Berdasar catatan Badan Metereologi, Kinekologi dan Geologi (BMKG), sesar RMKS pernah bergeser diikuti gempa merusak terjadi di Rembang-Tuban pada 1836 dengan skala VII MMI (modified mercalli intensity).
Kemudian, pada 1890 di Kabupaten Pati dengan skala VII MMI. Lalu, di Sedayu pada 1902 dengan skala VI MMI dan di Lamongan pada 1939 dengan skala VII MMI. Gempa sesar RMKS berikutnya tercatat di Sumenep pada 13 Juni.
Berlanjut 2018 dengan skala M 4,8 dan 11 Oktober 2018 berkekuatan magnitudo 6,4. Lalu, pada 15 Januari 2022, sesar RMKS menimbulkan gempa di Bangkalan M4,1 dengan kedalaman 14 kilometer.
Sesar aktif dapat menimbulkan gempa. Itu sebabnya, gempa nasional diharapkan ada kajiannya,” katanya. (ayu/rij) Editor : M. Yusuf Purwanto