Nyadran atau sedekah bumi ini salah satu tradisi mengenang para pendiri desa. Diawali kegiatan bersih desa dan syukuran di hari sebelumnya. ‘’Juga embersihkan sumber mata air bernama Sumber Ubalan,” kata Kepala Dusun (Kasun) Dodol Didik Riyanto.
Dia mengatakan, nyadran di dusunnya sudah ada sejak generasi sebelumnya, namun baru mulai dikoordinasi secara resmi sejak 2016. Nyadran kemarin, terdiri 17 gunungan dibuat masing-masing rukun tetangga (RT).
Menurut Didik, arak-arakan tumpeng mengelilingi desa juga diiringi musik oklik. Kegiatan rutin warga setiap tahun tersebut dapat memberi dampak positif bagi daerah, terutama generasi muda agar tidak melupakan asal-usul dan budaya.
Agung Ferianto salah satu pengunjung mengatakan, sengaja datang dari Kota Bojonegoro ke Kecamatan Gondang untuk melihat tradisi nyadran. Menurutnya, saat ini kegiatan tersebut semakin jarang, bahkan keunikan nyadran di Dusun Dodol sejauh ini belum pernah diekspose. ‘’Momentum ditunggu saat masyarakat berbagi sayuran dan makanan,” ungkapnya.
Lelaki asal Desa Sukorejo Kecamatan Bojonegoro tersebut mengaku antusias apalagi makanan disajikan cukup banyak. Dia semakin terhibur sajian musik oklik, dan tarian oleh warga sambil membawa gunungan hasil bumi. (dan/rij) Editor : M. Yusuf Purwanto