Kepala Bidang (Kabid) Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan (Dinkes) Bojonegoro dr. Whenny Dyah Prajanti mengatakan, wajib menemukan kasus TB sebanyak mungkin agar temuan tersebut bisa sesegera ditangani tenaga medis. ‘’Temuan tahun lalu memang tinggi, karena pascapandemi bisa optimal deteksi dini,” tutur Whenny.
Berdasar data, jumlah temuan pada 2021 sebanyak 1.226 kasus TB dan 2020 sebanyak 1.434 kasus. Pihaknya mengoptimalkan deteksi dini calon pengantin, ibu hamil, dan pasien setiap layanan kesehatan.
‘’Kalau temuan dari Januari hingga Maret tahun ini sebanyak 215 kasus TB,” tambahnya.
Upaya deteksi kasus TB lainnya menggalakkan gerakan program 1-15, ketika ditemukan ada satu kasus TB positif di suatu wilayah, petugas kesehatan akan memeriksa 15 orang terdekat lainnya.
Whenny menambahkan, selain capain temuan kasus TB tinggi pada 2022, juga diikuti success rate atau kesembuhan pasien TB di atas 90 persen. ‘’Tahun lalu success rate-nya 95 persen,” imbuhnya.
Perlu diketahui, pengobatan setiap penderita TB ialah minum obat TB minimal selama enam bulan. Apabila di tengah perjalanan pengobatan itu si penderita TB berhenti minum obat, akibatnya terjadi TB multi-drug resistant (TB-MDR) atau TB resisten obat (TB-RO). Ketika menjadi penderita TB-MDR, durasi meminum obat TB minimal dua tahun.
Agar tidak tertular TB upaya pencegahannya seperti menerapkan protokol kesehatan (prokes) Covid-19. Seperti mengenakan masker saat berada di tempat ramai dan apabila mengetahui berinteraksi dengan penderita TB, usahakan sering mencuci tangan.
Lalu penderita TB diharapkan tidak membuang dahak atau ludah sembarangan. Juga disiplin pakai masker. Selain itu, pastikan rumah memiliki sirkulasi udara baik, misalnya sering membuka pintu dan jendela agar udara segar serta sinar matahari dapat masuk. (bgs/rij) Editor : M. Yusuf Purwanto