Dua orang tampak menggoreng, seorang menggoreng adonan kerupuk kering di wajan hangat sekitar tiga menit dengan cara diaduk. Selanjutnya, kerupuk itu dipindah di wajan panas, seketika kerupuk mengembang. Dari ukuran diameter 5 sentimeter, mengembang jadi diameter sekitar 15 sentimeter.
Saat Jawa Pos Radar Bojonegoro bertandang di salah satu pabrik kerupuk turut Desa Mulyoagung, Kecamatan Bojonegoro Kota itu sekitar pukul 13.00 pada Sabtu lalu (29/3). Namun, saat itu belum bertemu pemilik pabrik, sebab sedang berjualan kerupuk. Akhirnya bisa bertemu sepulang jualan sekitar pukul 17.00.
Pemilik pabrik Teguh Mulyanto menyampaikan, dirinya generasi kedua. Pria kelahiran 1982 itu mengatakan pabrik kerupuk milik bapaknya itu berdiri sejak 1983 silam. ‘’Saya meneruskan usaha bapak, almarhum Supasito. Karena bapak meninggal dunia tahun lalu. Lebih tepatnya saya bersama empat saudara lainnya,” tutur anak kedua dari lima bersaudara itu.
Teguh menilai usaha kerupuk ini pada tahap bertahan. Mengingat persaingan semakin ketat. ‘’Dulu tidak banyak pesaingnya. Kalau sekarang banyak sekali pesaing. Bahkan di lingkup desa sini saja ada empat pabrik kerupuk,” bebernya.
Jadi, perlu melakukan berbagai pengembangan dan strategi bisnis matang. Selain itu, kualitasnya juga senantiasa dijaga. Adapun pengembangannya seperti melayani kerupuk dalam kemasan. ‘’Baru-baru ini saya jual dalam kemasan seharga Rp 10 ribu isi 25 biji,” ujarnya. Sehingga bisa menyasar konsumen rumah tangga. Mengingat selama puluhan tahun, pabriknya hanya fokus berjualan di warung makan. Setidaknya ada 200 warung makan meliputi wilayah sekitar Bojonegoro hingga Babat, Lamongan.
Ia mengatakan saat ini tiap warung ada empat hingga lima blek atau kaleng kerupuk berbagai merek. ‘’Jadi bisa dibilang untung-untungan. Tapi sebisa mungkin bilang ke pemilik warung agar menempatkan blek kerupuk milik kita di meja depan agar kelihatan,” ungkapnya. (bgs/msu) Editor : M. Yusuf Purwanto