Feri, salah satu pemuda asal Desa Mlaten, Kecamatan Kalitidu mengaku hanya duduk santai di atas jembatan sambil menikmati keramaian. Karena saat jelang buka puasa, kawasan Jembatan Malo cukup ramai. Orang-orang berburu takjil untuk berbuka puasa. ‘’Nongkrong di atas jembatan memang sudah menjadi kebiasaan, kumpul bersama teman,” ungkapnya.
Namun, Ramadan tahun ini ada pemandangan berbeda Jembatan Malo. Biasanya selama Ramadan, para pedagang takjil menjajakan dagangannya di kiri-kanan bahu jalan sisi utara maupun selatan Jembatan Malo. Kini, para pedagang takjil itu dipusatkan di sisi utara Jembatan Malo, jadi mirip bazar. Yakni, lahan parkir ruko dengan luas sekitar 650 meter persegi.
Arus lalu lintas tetap macet, tapi terkendali. Ibaratnya kemacetan bisa dinikmati, meski sesekali terdengar suara klakson. Tapi terbilang seru dan menyenangkan melihat para pegadang usaha mikro bergeliat. Mengingat dua tahun lalu diterpa pandemi Covid-19. Di lahan itu setidaknya lebih dari 15 pedagang berjualan.
Sudir, salah satu pedagang mainan menambahkan, lahan berjualan selama Ramadan memang baru tahun ini. ‘’Sekarang oleh pemdes dilarang berjualan di pinggir jalan. Dipusatkan di sini, jadi lebih rapi,” tuturnya.
Pria asal Desa/Kecamatan Malo itu mangkal di utara Jembatan Malo selama Ramadan. ‘’Kalau hari biasa, saya jualan mainan keliling ketika ada hajatan,” katanya.
Yuni, pedagang gorengan, pun sudah kali kedua berjualan saat Ramadan di kawasan Jembatan Malo. Menurutnya lebih nyaman berjualan di lahan parkir ruko tersebut. ‘’Lebih aman dan nyaman,” ucapnya. (bgs/msu) Editor : M. Yusuf Purwanto