Terkait angka kemiskinan masih tinggi, Tadho sapaannya menjelaskan, kemiskinan tidak bisa disandingkan semua kabupaten dari angka capaiannya. Karena kondisi dan berangkatnya tidak sama, juga karakteristik kemiskinannya.
Bojonegoro berawal dari daerah endemic poverty selama puluhan tahun. Ditambah karakteristik kemiskinan beda-beda setiap daerah, ada kemiskinan kultural dan struktural. Juga kualitas kemiskinan. ‘’Bojonegoro mengedepankan penurunan jumlah penduduk miskin. Di mana dari 166.520 jiwa pada 2021 menjadi 153.400 jiwa pada 2022. Sehingga ada penurunan 13.120 jiwa,” terangnya.
Terlebih angka kemiskinan ekstrem mampu turun dari 2,88 persen pada 2021 menjadi 1,78 persen pada 2022. Sehingga mengalami penurunan 1,1 persen, lebih tinggi dari penurunan di Jatim dengan 0,43 persen. ‘’Program dari kami berhasil menurunkan kemiskinan,” klaimnya. (irv/rij) Editor : M. Yusuf Purwanto