Berbeda tahun depan, pemberian mesin combine sulit terealisasi. Sebab, terkendala ketersediaan anggaran. “Tahun 2023 kemungkinan tidak ada pembagian combine lagi. Karena anggaran dikurangi,” kata Kepala Bidang (Kabid) Sarana Prasarana dan Perlindungan Tanaman (Sarpras dan Perlintan) Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Bojonegoro Retno Budi Widyanti.
Selain 17 combine, menurut Retno, kemungkinan akan ada lagi jika masih terdapat anggaran. Pembelian mesin pertanian ini bersumber APBD Bojonegoro.
Pembagian mesin combine secara bertahap karena lahan parkir tidak mencukupi. 14 penerima meliputi gapoktan asal Kecamatan Ngasem, Kapas, Sugihwaras, Temayang, Dander, Kedungadem, Ngraho, Kanor, Bojonegoro, Kasiman, Kalitidu, Sumberrejo, Sukosewu, dan Padangan.
Retno mengatakan, pengolahan combine sepenuhnya diserahkan kepada poktan. DKPP hanya memfasilitasi dan memantau pemanfaatannya. Tentu, poktan harus mempunyai petugas bisa mengoperasikan combine.
“Pemberian combine kepada beberapa poktan dan gapoktan ini berdasar pertimbangan sentra produksi,” ujar Retno.
Seperti mengutamakan daerah di aliran Sungai Bengawan Solo. Karena persawahan di daerah tersebut memiliki jumlah tanam lebih banyak dibanding daerah lain. Bisa panen tiga kali selama satu tahun. Serta, berdasar pola lahan, karena tidak semua persawahan bisa menggunakan combine. (ewi/rij) Editor : M. Yusuf Purwanto