Angka tersebut membuat Bojonegoro berada di posisi ke 28 di Jawa Timur. Dan di bawah rata-rata Jawa Timur. Pengeluaran per kapita riil yang disesuaikan tersebut menunjukkan daya beli masyarakat Bojonegoro masih di bawah kota dan kabupaten di Jatim. Ketika pengeluaran per kapita tinggi, tentu kemampuan ekonomi juga tinggi. Sehingga berpengaruh indeks pembangunan manusia (IPM) tinggi pula.
Berdasar data Badan Pusat Statistik (BPS) Jatim, pengeluaran per kapita riil disesuaikan 2022, Bojonegoro berada di bawah kabupaten sekitar. Kabupetan Tuban mencapai Rp 10, 703 juta, Ngawi 11, 563 juta, Jombang Rp 11,579 juta, dan Lamongan Rp 11,648 juta. Sedangkan, rerata Jatim Rp 11, 992 juta.
Nila Oktaria staf BPS Bojonegoro mengatakan, pengeluaran per kapita yang disesuaikan merupakan komponen IPM. Pengeluaran per kapita adalah biaya dikeluarkan untuk konsumsi semua anggota rumah tangga. Selama sebulan dibagi dengan banyaknya anggota rumah tangga yang telah disesuaikan dengan paritas daya beli.
“Artinya, secara rata-rata pengeluaran penduduk Bojonegoro selama setahun adalah Rp 10,3 juta,” bebernya.
Mifta Hulaikah akademisi ekonomi asal Bojonegoro mengatakan, ada tiga dimensi sebagai indikator IPM. Dimensi kesehatan, pendidikan dan ekonomi. Dimensi ekonomi diukur pengeluaran per kapita.
Menurut Mifta, pengeluaran per kapita tinggi diasumsikan daya beli masyaakat juga tinggi. Sehingga, kemampuan ekonomi masyarakat juga tinggi. “Tentu IPM juga tinggi,” ungkap doktor lulusan Universitas Negeri Malang tersebut. (irv/rij)