Hartono ketua pokdarwis mengatakan, pendirian rumah makan Gubuk Kelor dimulai semangat lima orang hingga menjadi 12 anggota. Pembuatan rumah makan dengan ciri khas kelor, sesuai potensi desa. Tentu, untuk membangkitkan semangat pemuda. Namun, proses awal, tidak jauh dari kendala. “Waktu pandemi rugi banyak, sampai Rp 20 juta,” ujar dia.
Sejak 2021, BUMDes membangun Taman Dolanan, berupa tempat kemah dan outbound di belakang rumah makan. Perpaduan ini akhirnya ada angin segar. “Bulan ini saja sudah ada 26 yang booking,” jelasnya.
Hartono menambahkan, sadar wisata desa itu penting untuk mengembangkan dan membantu ekonomi desa. Mewadahi anak muda berkembang. “Saya di sini digaji sesuai pendapatan Gubuk Kelor. Kalau Taman Dolanan dipegang ketua BUMDes,” imbuhnya.
Hasil kedua wisata potensi Desa Bogo dibagi untuk pengelola, pekerja, dan desa. Diambil dari uang sewa Taman Dolanan dan pendapatan Gubuk Kelor. (ynk/rij) Editor : M. Yusuf Purwanto