Slamet Khudori produsen tempe di Kelurahan Ledok Kulon, Kecamatan Bojonegoro Kota mengatakan, harga kedelai saat ini mencapai Rp 13.700 perkilogram. Harga kedelai sudah mulai naik sejak tahun lalu.
“Tahun lalu hanya sekitar Rp 8 ribu,” ungkapnya.
Slamet menjelaskan, untuk menyiasati harga kedelai yang tinggi, ukuran tempe diperkecil. Tempe dengan harga Rp 4.000 saat ini memiliki panjang sekitar 29 sentimeter (cm). Padahal sebelumnya mencapai 34 cm.
“Ukuran mengecil 5 cm,” jelasnya.
Walau ukuran diperkecil, namun laba tetap menurun. Berkurangnya keuntungan harus dimaklumi agar harga tetap bisa bersaing dengan produsen tempe lain. Belum lagi persaingan dengan lauk lain, seperti ayam.
“Sayap ayam sepotong hanya Rp 2.500. Tentu masyarakat akan lebih memilih daging ayam dibanding tempe,” terangnya.
Menurut Slamet, sebenarnya ukuran yang diperkecil membuat produksi tempe lebih banyak dengan jumlah bahan baku yang sama. Namun, dengan harga kedelai terlalu tinggi, keuntungan berkurang.
“Setiap produksi menghabiskan 3 kwintal kedelai,” ujarnya.
Selain memperkecil ukuran, Slamet juga menaikkan harga tempe untuk beberapa ukuran. Seperti tempe dengan berat 5 ons dihargai Rp 5.000. Sedangkan sebelumnya hanya Rp 4.000. Tentu dengan kenaikan harga ini berpotensi membuat pembeli beralih. Namun harus dilakukan agar tetap bisa produksi.
“Jadi jika dihitung per ons Rp 1.000,” terangnya. (irv/msu) Editor : M. Yusuf Purwanto