Daerah Ekonomi Gemas Haji & Umrah Headline News Internasional Kawan Cilik Kesehatan Kuliner Lentera Islam Mbakyu Nasional Opini Otomotif Pendidikan Peristiwa Persepsi Politik & Pemerintahan Redaksi She Sportainment Tausiah Ramadan Teknologi Weekend Yuk

30.867 Keluarga Miskin Sektor Pertanian

M. Yusuf Purwanto • Sabtu, 5 November 2022 | 00:03 WIB
MASIH DITUTUP: Kondisi Jembatan Glendeng yang masih belum bisa dilewati kendaran karena kondisinya yang masih mengkhawatirkan. (Nurcholish,rbjn)
MASIH DITUTUP: Kondisi Jembatan Glendeng yang masih belum bisa dilewati kendaran karena kondisinya yang masih mengkhawatirkan. (Nurcholish,rbjn)
BOJONEGORO, Radar Bojonegoro - Angka kemiskinan di Bojonegoro sebanyak 166 ribu jiwa didominasi pekerja sektor pertanian. Jumlahnya mancapai 41,66 persen. Sedangkan, jumlah kepala rumah tangga yang bekerja sektor pertanian sebanyak 30.867 rumah tangga (ruta) atau 76,09 persen dari total 40.614 ruta miskin.

Padahal, Bojonegoro termasuk kabupaten agraria. Beberapa pihak meminta kinerja Pemkab Bojonegoro pro-pertanian. Mulai bantuan sosial (bansos) untuk petani hingga pemberdayaan tepat mengolah hasil pertanian.

Berdasar data Badan Pusat Statistik (BPS) Bojonegoro tentang Profil Kesmiskinan 2021, terkait sektor lapangan usaha utama penduduk miskin dibagi menjadi tiga. Yakni, 21,36 penduduk miskin tidak bekerja. 36,98 penduduk miskin bekerja sektor nonpertanian dan 41,66 penduduk miskin bekerja sektor pertanian.

Sedangkan, kategori kepala rumah tangga (ruta) miskin 3,66 ruta tidak bekerja, 20,25 persen ruta bekerja di sektor nonpertanian, dan 76.09 ruta sektor pertanian dari total 40.614 ruta.

Statistik Ahli Muda BPS Bojonegoro Koernia Novijanantho mengatakan, hasil survei profil kemiskinan sudah diketagorikan menjadi dua penduduk. Baik miskin dan tidak miskin. Sehingga persentase berdasar kategorinya.

Koernia menjelaskan, ruta miskin yang bekerja di sektor pertanian sekitar 30.867 rumah tangga. Sedangkan total ruta miskin sebanyak 40.614 rumah tangga.

Wakil Ketua Komisi B DPRD Sigit Kushariyanto mengatakan, bansos tetap dibutuhkan dan terpenting penyalurannya tepat sasaran. Namun, tahun depan kebijakan-kebijakan akan diambil harus pro-pemberdayaan petani, usaha mikro, pasar desa. “Tetapi harus dititikberatkan sektor pertanian, bantuan-bantuan bersifat subsidi harus ada. Karena banyak petani mengeluh,” ujar politikus Golkar itu.

Dosen Politeknik Pertanian dan Peternakan Mapena Tuban Awaludin Ridwan mengatakan, untuk mengurangi kemiskinan petani harus diberdayakan. Dari petani budidaya menjadi agripreneur.

Sedangkan, program pemkab hanya fokus sektor budidaya. “Bagus (program pemkab), tapi masih fokus bidang budidaya, seperti program kartu petani mandiri (KPM),” tutur dosen tinggal di Kecamatan Dander tersebut.

Ridwan mengatakan, kemiskinan petani karena selama ini masih fokus budidaya. Ditambah sumber daya manusia (SDM) rendah. Sehingga untuk keluar dari jebakan kemiskinan perlu ditingkatkan pelatihan dan pendampingan. Tentu menjadi agripreneur pertanian.

Perbedaan petani budidaya dan agripreneur terdapat pengolahan hasil panen. Petani budidaya fokus budidaya. Sedangkan agripreneur mampu mengolah hasil untuk memberi nilai tambah produk pertanian. “Contoh bisa mengolah singkong jadi tepung. Padi jadi beras berkualitas, bahkan bisa menjadi tepung. Hingga jagung jadi pakan ternak,” bebernya. (irv/bgs/rij) Editor : M. Yusuf Purwanto
#kemiskinan #kesejahteraan #Pertanian #rumah tangga #masyarakat #bantuan