Padahal, Bojonegoro termasuk kabupaten agraria. Beberapa pihak meminta kinerja Pemkab Bojonegoro pro-pertanian. Mulai bantuan sosial (bansos) untuk petani hingga pemberdayaan tepat mengolah hasil pertanian.
Berdasar data Badan Pusat Statistik (BPS) Bojonegoro tentang Profil Kesmiskinan 2021, terkait sektor lapangan usaha utama penduduk miskin dibagi menjadi tiga. Yakni, 21,36 penduduk miskin tidak bekerja. 36,98 penduduk miskin bekerja sektor nonpertanian dan 41,66 penduduk miskin bekerja sektor pertanian.
Sedangkan, kategori kepala rumah tangga (ruta) miskin 3,66 ruta tidak bekerja, 20,25 persen ruta bekerja di sektor nonpertanian, dan 76.09 ruta sektor pertanian dari total 40.614 ruta.
Statistik Ahli Muda BPS Bojonegoro Koernia Novijanantho mengatakan, hasil survei profil kemiskinan sudah diketagorikan menjadi dua penduduk. Baik miskin dan tidak miskin. Sehingga persentase berdasar kategorinya.
Koernia menjelaskan, ruta miskin yang bekerja di sektor pertanian sekitar 30.867 rumah tangga. Sedangkan total ruta miskin sebanyak 40.614 rumah tangga.
Wakil Ketua Komisi B DPRD Sigit Kushariyanto mengatakan, bansos tetap dibutuhkan dan terpenting penyalurannya tepat sasaran. Namun, tahun depan kebijakan-kebijakan akan diambil harus pro-pemberdayaan petani, usaha mikro, pasar desa. “Tetapi harus dititikberatkan sektor pertanian, bantuan-bantuan bersifat subsidi harus ada. Karena banyak petani mengeluh,” ujar politikus Golkar itu.
Dosen Politeknik Pertanian dan Peternakan Mapena Tuban Awaludin Ridwan mengatakan, untuk mengurangi kemiskinan petani harus diberdayakan. Dari petani budidaya menjadi agripreneur.
Sedangkan, program pemkab hanya fokus sektor budidaya. “Bagus (program pemkab), tapi masih fokus bidang budidaya, seperti program kartu petani mandiri (KPM),” tutur dosen tinggal di Kecamatan Dander tersebut.
Ridwan mengatakan, kemiskinan petani karena selama ini masih fokus budidaya. Ditambah sumber daya manusia (SDM) rendah. Sehingga untuk keluar dari jebakan kemiskinan perlu ditingkatkan pelatihan dan pendampingan. Tentu menjadi agripreneur pertanian.
Perbedaan petani budidaya dan agripreneur terdapat pengolahan hasil panen. Petani budidaya fokus budidaya. Sedangkan agripreneur mampu mengolah hasil untuk memberi nilai tambah produk pertanian. “Contoh bisa mengolah singkong jadi tepung. Padi jadi beras berkualitas, bahkan bisa menjadi tepung. Hingga jagung jadi pakan ternak,” bebernya. (irv/bgs/rij) Editor : M. Yusuf Purwanto