Daerah Ekonomi Gemas Haji & Umrah Headline News Internasional Kawan Cilik Kesehatan Kuliner Lentera Islam Mbakyu Nasional Opini Otomotif Pendidikan Peristiwa Persepsi Politik & Pemerintahan Redaksi She Sportainment Tausiah Ramadan Teknologi Weekend Yuk

Kunci Sukses, Belajar Memahami Alam

M. Yusuf Purwanto • Sabtu, 22 Oktober 2022 | 15:10 WIB
BERTANAM RAMAH LINGKUNGAN: Petani di Desa Sudu, Kecamatan Gayam, Bojonegoro, mengecek hasil padi. Petani memakai pupuk organik. Hasil produksi padi meningkat. (Istimewa For RDR.BJN)
BERTANAM RAMAH LINGKUNGAN: Petani di Desa Sudu, Kecamatan Gayam, Bojonegoro, mengecek hasil padi. Petani memakai pupuk organik. Hasil produksi padi meningkat. (Istimewa For RDR.BJN)

Bertani sejatinya menggauli bumi. Untuk hasil yang baik, maka manusia dan bumi harus saling memahami.


 

 

BERTANI menjadi nafas kehidupan Haji Suwito, 67 tahun, warga Desa Sudu, Kecamatan Gayam, Kabupaten Bojonegoro. Orangtua, kakek neneknya dan generasi di atasnya juga petani. Suwito pun menggantungkan kehidupan keluarganya dari bertani. Hingga berhasil menunaikan ibadah haji, juga dari usaha taninya itu.

 

Tapi, pencapaian itu bukan tanpa rintangan. Sejak belia, Suwito ikut orangtuanya ke sawah. Di situlah proses pembelajaran dimulai. Mulai menanam padi hingga membajak sawah. Pada usia 14 tahun, Suwito sudah bisa membajak sawah orangtuanya.

Photo
Photo
BERTANAM RAMAH LINGKUNGAN: Petani di Desa Sudu, Kecamatan Gayam, Bojonegoro, mengecek hasil padi. Petani memakai pupuk organik. Hasil produksi padi meningkat. (Istimewa For RDR.BJN)

Bertani terus dijalankan saat sudah menikah dan punya lahan sendiri. Pola bertani Suwito berkembang seiring intensitas interaksi dengan sesama petani di desanya. Sebagian besar menggunakan pupuk dan obat kimia. “Hampir semua petani melakukan cara ini. Kalau ada masalah di tanaman, langsung dikasih obat. Begitu pula pupuk,” ungkap Suwito.

 

Pola itu ternyata semakin lama tidak menguntungkan. Biaya beli pupuk dan obat jauh lebih tinggi daripada harga jual gabah. Alhasil, biaya produksi lebih tinggi daripada hasil panennya. Tak ingin usaha taninya terus merugi, Suwito berusaha mencari jawaban. Mulai dari ganti tanaman hingga menggunakan ragam obat kimia. Namun, langkah itu belum membuahkan hasil.

 

Hingga akhirnya Suwito mendapatkan perspektif baru dalam ilmu tani setelah mengikuti Sekolah Lapangan Pertanian (SLP) diprakarsai ExxonMobil Cepu Limited (EMCL), operator Lapangan Minyak dan Gas Banyu Urip.

 

Dalam program itu, EMCL bermitra dengan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM)  “Field Indonesia” yang memiliki kompetensi di bidang pertanian. Tenaga ahli dari LSM tersebut mengenalkan sistem pertanian ramah lingkungan. Melawan hama dengan memelihara ekosistem di sawah, menggunakan pupuk organik, dan mengembangkan agen hayati.

 

Para petani di Desa Sudu, termasuk Suwito, mendapatkan pelatihan dan praktik di sawah secara langsung. Mereka terlibat uji coba. Ruang berbagi pengalaman dengan para petani juga difasilitasi.

 

**


 

SLP memfasilitasi aktivitas belajar bersama. Sawah merupakan ruang kelas sekaligus perpustakaan. Peserta berkumpul seminggu sekali selama satu musim mengikuti dan menganalisa perkembangan tanaman mereka. SLP menekankan peran aktif petani sebagai pelaku, peneliti, pemandu, dan manajer lahan yang ahli. Peserta dilatih perencanaan, dinamika kelompok, dan wawasan tentang pengelolaan keuangan.

 

Program ini dilaksanakan sejak 2020. Hingga kini, lebih dari 600 petani dari 6 desa di Kecamatan Gayam dan Kalitidu telah mengikuti SLP. Para petani terlibat aktif di SLP telah membantu lebih dari 500 petani lainnya pemanfaatan pengendali hayati, pupuk kompos dan pupuk organik cair.

 

Menurut survei dilakukan Field Indonesia, para petani telah menerapkan metode SLP berhasil meningkatkan panennya sekitar 20-30 persen. Sedangkan, biaya produksi menurun seiring berkurangnya biaya pembelian pupuk dan obat kimia.  “Saya berusaha terus mengurangi penggunaan kimia. Alhamdulillah dua musim ini produktivitas sawah saya meningkat. Keuntungan bertambah sekitar 20 persen,” ucap Suwito.

 

External Affairs Manager EMCL, Ichwan Arifin mengatakan bahwa SLP merupakan bagian dari Program Pengembangan Masyarakat EMCL-SKK Migas di sektor pertanian. Progran ini didesain secara partisipatif dengan muara akhir peningkatan kesejahteraan petani. “Mempertautkan kearifan lokal dan pengetahuan baru dalam pertanian serta partisipasi aktif petani, merupakan kunci dari kesuksesan program ini,” jelas Ichwan.

 

Senada dengan hal itu, Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Bojonegoro Helmy Elisabeth menyampaikan bahwa SLP sejalan dengan misi Pemkab Bojonegoro. Khususnya meningkatkan taraf hidup petani. “Kami mendukung upaya dan kontribusi dari berbagai pihak upaya mendorong terwujudnya kesejahteraan petani,” tegas Helmy.

 

Program ini mendorong para petani “kembali ke alam”. Petani yang sukses, seperti Suwito, selalu belajar memahami bumi dan alam tempat berpijak dan mencari kehidupan. (*)

Photo
Photo
BERTANAM RAMAH LINGKUNGAN: Petani di Desa Sudu, Kecamatan Gayam, Bojonegoro, mengecek hasil padi. Petani memakai pupuk organik. Hasil produksi padi meningkat. (Istimewa For RDR.BJN) Editor : M. Yusuf Purwanto
#advertorial #Petani #bojonegoro #Belajar Memahami Alam #Bertani #Pupuk Organik #emcl