“Kami siap me-monitoring,” kata Kabid Tanaman Pangan dan Holtikultura Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Bojonegoro Imam Nurhamid.
Imam mengaku akan segera mengagendakan kajian ke petani kopi di Desa Tlogohaji. Sekaligus memberi pendampingan pengembangan produk kopi. Kerja sama dengan pihak ketiga dari luar kota lebih berpengalaman juga akan dilakukan agar menjadi kopi khas Bojonegoro.
Menurut Imam, pengembangan tanaman kopi juga ada di Desa Beji, Kecamatan Kedewan. Tahun ini terdapat rencana penambahan seribu bibit kopi jenis robusta. Sehingga bisa menjadi sentra perkebunan kopi. Terlebih cuaca di Desa Beji dinilai cocok tanaman kopi dan antusisme petani di desa tersebut.
“Kami sedang berada di Jember survei bibit kopi,” jelanya kemarin (14/9).
Dosen Fakultas Pertanian Universitas Bojonegoro (Unigoro) Darsan meminta DKPP segara melalukan kajian agar bisa mengambil kebijakan. Khususnya pemilihan tempat pengembangan tanaman kopi.
Dia mengatakan, petani bisa memodifikasi sistem pertanian tanaman kopi. Memanipulasi bagian bawah atau tanah sehingga tidak gerak menjadi cara menanam kopi. Ketika menggunakan tanah hitam atau grumusol mudah retak dan gerak saat panas, akan membuat tanaman kopi tak tumbuh baik. “Cocok juga ditanam di wilayah selatan Bojonegoro, seperti Klino dan sekitarnya,” terangnya.
Sedangkan, suhu panas bisa dimodifikasi memberikan paranet mengurangi penyinaran matahari. Bila kualitas menjanjikan, tentu menjadi kebanggaan. Terlebih produk lokal hemat biaya pengiriman. “Dari sisi itu menang, dibanding mengambil dari luar kota,” ungkapnya. (irv/rij) Editor : M. Yusuf Purwanto