Moch. Subeki selaku pemilik hotel sekaligus kolektor sepeda onthel antik itu mengatakan, memang setidaknya satu bulan sekali perlu disemir koleksinya tersebut. Sehingga warnanya bisa makin mengkilat.
“Rajin nyemir sebulan sekali. Juga selalu mengecek kondisi ban apabila kurang angin,” tuturnya.
Jumlah koleksinya sekitar 30 sepeda onthel antik. Ia mengoleksi sejak 2005 silam. Berawal karena suka dengan barang antik, ia berburu sepeda onthel antik di berbagai daerah.
Hingga akhirnya, tanpa berburu kerap kali ia ditawari sepeda onthel antik oleh banyak orang. “Kadang yang menawarkan itu memang makelar. Tapi ada juga yang menjual karena memang butuh uang untuk kehidupan sehari-hari,” bebernya.
Karena ia punya usaha hotel, puluhan koleksinya tidak sekadar jadi pajangan. Tapi, ada juga yang menjadi fasilitas bagi orang yang menginap di hotelnya. “Seringkali dipakai perorangan untuk jalan-jalan Bojonegoro. Tetapi ada juga yang rombongan keluarga sedang reuni dan menginap, lalu pakai sepeda itu keliling kota,” jelasnya.
Perihal harga koleksinya tentu variatif, mulai dari ratusan ribu hingga puluhan juta. Karena ketika bicara barang antik atau kuno tentu usia serta kondisi sepeda memengaruhi harga jualnya. Ia beberapa koleksi sepeda onthel antik merek buatan Jerman.
“Koleksi yang saya punya paling tua dibuat pada 1890, merek buatan Jerman. Harganya mencapai sekitar Rp 30 juta,” terangnya.
Tidak sekadar sepeda, Subeki juga mengoleksi ragam ornamen antik. Ada mobil maupun motor antik dipajang di berbagai sudut. (bgs/rij) Editor : M. Yusuf Purwanto