Hingga kini belum ditemukan ternak sapi di Bojonegoro terdeteksi mengidap penyakit PMK. Namun, PMK sudah merebak di empat daerah di Jawa Timur, yaitu Lamongan, Mojokerto, Gresik, dan Sidoarjo.
“Kami melakukan (penyekatan) di wilayah perbatasan, seperti di Kecamatan Baureno. Ternak dari Lamongan tidak boleh masuk dan diminta kembali,” kata Kabid Kesehatan Hewan Dinas Peternakan dan Perikanan (Disnakkan) Bojonegoro Sugiharti Sri Rahayu kemarin (11/5).
Penyekatan untuk mencegah sapi menderita virus masuk. Sedangkan, pasar hewan di Bojonegoro tetap buka, namun hanya untuk sapi lokal. Sedangkan, sapi dari Bojonegoro boleh dijual ke luar kota. Sebab belum ditemukan kasus. Juga diperlukan pemeriksaan secara mendetail sebelum sapi ke luar Bojonegoro.
Sugiharti meminta peternak agar tidak panik. Tetap berhati-hati menjaga kebersihan ternak dan kandang. Juga tidak membeli ternak baru, terlebih dari luar kota. Terlebih wilayah sudah terjadi wabah, salah satunya Lamongan. Sebab, selama ini banyak peternak di wilayah perbatasan seperti Kecamatan Kedungadem dan Kepohbaru, membeli dari luar kota. “Sementara membeli ternak dari lokal,” tegasnya.
Kewaspadaan diperlukan, menurut Sugiharti, karena penyebaran PMK sangat cepat, baik melalui sentuhan antarsapi, petugas atau peternak, hingga udara. Tingkat penyerbaran mencapai 90 hingga 100 persen.
“Artinya saat ada satu sapi dari 100 ekor di kandang terinfeksi, 90 hingga 100 sapi lainnya pasti terserang,” ungkapnya.
Pencegahan pertama dengan pemeriksaan kesehatan hewan di peternak maupun pasar hewan. Sebagai tempat memungkinkan penularan penyakit. Serta penutupan atau penyekatan demi mencegah sapi dari luar Bojonegoro masuk.
Menurut Sugiharti, ketika peternak menemukan sapi dengan gejala demam tinggi segera melapor ke petugas disnakkan. Selain demam, juga sapi dengan gejala luka melepuh pada mulut dan lidah. Enggan makan hingga kaki pincang karena kuku luka atau pecah. “Petugas akan memeriksa, pengobatan, hingga penyemprotan,” ujarnya.
PMK tidak berbahaya bagi manusia, namun mampu berdampak besar pada sektor ekonomi. Berakibat sapi mati ketika tidak segera tertangani. Selain itu perlu waktu lama untuk penyembuhan ternak terinfeksi. Sekitar dua minggu masa karantina.
Kapolres Bojonegoro AKBP Muhammad menjelaskan, pemeriksaan ternak terkait PMK sudah dilakukan di 17 wilayah polsek jajaran di Bojonegoro. Hasilnya tidak ditemukan ternak terinveksi PMK.
Sementara itu, pengawasan intens juga dilakukan di Pasar Hewan Bojonegoro, persisnya di Kecamatan Balen. Kapolsek Balen AKP Simoen mengatakan, pemeriksaan ternak terkait PMK di Pasar Hewan di Balen, dilakukan pagi, sekitar pukul 07.00.
Awaludin Ridwan dosen Politeknik Pertanian dan Peternakan Mapena Tuban mengatakan, pengawasan lalu lintas ternak antarkabupaten harus perlu dilakukan, terutama dari Kabupaten Lamongan sudah ditemukan kasus PMK. Sosialisasi ke peternak dan kelompok ternak harus intens agar peternak tidak panik.
Ridwan menjelaskan PMK tidak berbahaya bagi manusia sebab tidak menular antar ternak ke manusia. Namun, kerugian besar akan terjadi pada ekonomi. Terlebih menjelang Idul Adha banyak peternak menjaul sapi. Tapi akibat merebaknya PMK, harga justru turun. (irv/rij) Editor : M. Yusuf Purwanto