Warga setempat sudah menanam jeruk bali sejak puluhan tahun silam. Hasil menanam saat itu mulai bisa dipetik. Buah lokal ini ternyata memiliki potensi ekonomi tinggi. Orang-orang keturunan Tionghoa kerap datang membeli jeruk bali ini.
‘’Ini sejak dulu. Orang tua kami yang menanamnya,’’ ungkap Yasin, warga setempat ditemui Jawa Pos Radar Bojonegoro.
Jeruk bali di Desa Kabunan sama seperti mangga di sejumlah desa lain. Bisa ditemukan dengan mudah di depan rumah-rumah warga. Buahnya terlihat bergelantungan. Ukuran buah sebesar bola sepak bola.
Rata-rata pohon jeruk bali itu sudah berusia puluhan tahun. Namun, pohonnya tidak besar dan tinggi. Dari struktur kayunya terlihat jika pohon itu sudah tua.
Buah jeruk bali itu hanya dikonsumsi sendiri oleh warga. Selain dimakan di tempat, biasanya dibuat rujak. Rujak jeruk bali ini biasanya digunakan acara tingkepan, yakni selamatan tujuh bulanan orang hamil.
‘’Orang Tionghoa sering mencari ke sini,’’ jelasnya.
Yasin memiliki lima pohon jeruk bali di pekarangan rumahnya. Semuanya berbuah lebat. Tidak jarang satu pohon bisa berbuah hingga 300 buah. Hal itu kadang membuat dahannya patah akibat tidak kuat menahan beban.
Jeruk bali tidak banyak memiliki hama. Satu satunya hama hanya tupai. Buah sudah besar dipastikan habis jika dibiarkan begitu saja. Karena itu, buahnya selalu dibungkus plastik sebelum dipanen.
Jeruk bali bisa berbuah sepanjang tahun. Baik musim hujan maupun kemarau pohon akan terus berbuah. Durasi panennya cukup lama. Sejak berbunga bisa dipanen setelah enam bulan.
Yasin menjelaskan, jeruk bali asal Desa Kabunan itu berbeda dengan jeruk bali dari daerah lain. Kulitnya lebih tipis. Airnya lebih banyak dan lebih manis. Bahkan, setelah dipetik semakin lama dibiarkan akan semakin manis. ‘’Kalau jeruk bali lainnya itu kulitnya tebal,’’ jelasnya.
Jeruk bali juga tumbuh subur di Desa Semenpinggir Kecamatan Kapas. Persisnya di RT 8. Kawasan ini lokasinya berdekatan dengan Desa Kabunan. ‘’Pohon jeruk bali di sini sudah puluhan tahun,’’ ujar Abdul Mutolib, salah satu warga pemilik pohon jeruk bali.
Mutolib menanam pohon jeruk bali di pekarangan rumahnya. Dia tidak menjualnya. Namun, jika ada yang butuh dia bisa memberikannya. ‘’Biasanya orang tingkepan yang minta,’’ tuturnya. (zim/rij)