Puluhan karyawan sibuk dengan kayunya masing-masing. Terlihat tumpukan kayu berdiameter kecil hingga besar tertata rapi. Kondisi serupa mudah ditemukan di sepanjang jalan membujur timur barat itu.
Kebetulan Desa Sukorejo, Kecamatan Kota, menjadi sentra kerajinan kayu jati, terutama ragam mebel. Sepanjang kiri dan kanan jalan berjejer usaha mebel.
Namun, terkesan sepi karena tak ada lagi acara tahunan berupa pameran bertajuk Bojonegoro Wood Fair yang mana pernah digelar sekitar sepuluh tahun lalu.
Jawa Pos Radar Bojonegoro bertandang di salah satu usaha mebel bernama Sadam Art. Tampak lemari, meja kursi, dan ragam mebel dipamerkan. Ukiran besar perkakas dinding cukup menonjol kayu jatinya.
Memasuki galeri tersebut, disambut hangat seseorang selaku tukang ukir bernama Gunawan. Pria asli Klaten, Jawa Tengah, itu pun mengajak untuk melihat proses pengerjaan mebel berada di belakang rumah.
Tidak disangka ukuran gudang pengerjaan mebel lumayan luas. Lebih dari 50 karyawan sedang bekerja. Suara mesin pemotong kayu menderu dan bersahutan. Juga suara gesekan amplas turut mewarnai.
Gunawan mengatakan, antrean pesanan cukup banyak. Sehingga pandemi Covid-19 selama dua tahun tak pengaruhi usaha mebel. “Alhamdulillah tidak ada dampaknya. Kami juga tidak ada pengurangan karyawan. Justru antrean pesanan makin banyak,” jelas Gunawan.
Kualitas mebel di tempat Gunawan memang tak perlu diragukan lagi. Pesanan datang dari individu, instansi, hingga pejabat. Bahkan, di era Orde Baru, keluarga Cendana kerap memesan mebel di tempatnya.
“Tahun ini kami dapat pesanan mebel perkantoran untuk Pengadilan Agama se-Jawa Timur. Juga banyak pesanan dari berbagai masjid,” bebernya.
Gunawan menambahkan, industri mebel harus terus belajar dan beradaptasi dengan permintaan pasar. Ketika ada pesanan dari konsumen sekiranya model kekinian, tentu tetap diterima dan dipelajari. “Tetapi model klasik modern tetap sepanjang masa,” imbuhnya.
Hingga sekarang, belum pernah memanfaatkan media sosial untuk memasarkan mebel. Karena pangsa pasar mebel memang tergantung selera. Sehingga tidak ada harga pakemnya. (bgs/rij) Editor : M. Yusuf Purwanto