Daerah Ekonomi Gemas Haji & Umrah Headline News Internasional Kawan Cilik Kesehatan Kuliner Lentera Islam Mbakyu Nasional Opini Otomotif Pendidikan Peristiwa Persepsi Politik & Pemerintahan Redaksi She Sportainment Tausiah Ramadan Teknologi Weekend Yuk

Dataran Tinggi pun Terendam Banjir

Indra Gunawan • Sabtu, 9 Januari 2021 | 19:30 WIB
Dataran Tinggi pun Terendam Banjir
Dataran Tinggi pun Terendam Banjir

Radar Tuban - Dampak kerusakan alam semakin nyata saat musim penghujan seperti sekarang ini. Terbukti, banjir bisa menerjang di mana saja, meski di dataran tinggi. Seperti yang terjadi kemarin (8/1), banjir akibat luapan sungai menggenangi jalan dan pemukiman warga di Desa Bektiharjo, Kecamatan Semanding.


Selama ini Bektiharjo merupakan salah satu wilayah dataran tinggi di Tuban. Meski bah hanya lewat, namun banjir sempat meresahkan warga karena genangan cukup tinggi hingga lutut orang dewasa atau sekitar 50 sentimeter (cm). Banjir terjadi sekitar pukul 15.00 dan mulai surut sekitar pukul 16.30.


Surutnya banjir karena luapan air mengalir ke dataran lebih rendah di sekitarnya. Anggik Mahendra, warga Desa Bektiharjo, Kecamatan Semanding mengatakan, baru musim hujan ini desanya diterjang banjir lebih dari tiga kali sebulan.


Meski hanya lewat, banjir tersebut cukup mengkhawatirkan. Karena menyeret sejumlah barang milik warga yang diletakkan di luar rumah. ‘’Merusak beberapa mesin pompa air milik warga karena terendam,’’ kata dia.


Titik banjir terparah, kata Anggik, berada di sekitar kawasan Pemandian Bektiharjo. Meski hanya satu jam, banjir tersebut cukup merepotkan karena menyisakan lumpur di sepanjang jalan desa dan pemukiman warga. Dia berharap ada solusi terkait persoalan bah tersebut. ‘’Ini sudah yang ketiga kalinya banjir parah pada musim penghujan,’’ ujarnya.


Kepala BPBD Tuban Yudi Irwanto menjelaskan, banjir yang terjadi di Tuban dua bulan terakhir dipicu air kiriman dari dataran tinggi ke dataran rendah, sebelum bermuara ke laut. Dikatakan dia, faktor utama pemicu banjir adalah kerusakan alam. Akibatnya, air tak lagi tersimpan di dalam tanah dengan baik.


Ditambah fenomena La Nina yang memicu intensitas debit air hujan lebih tinggi dari biasanya. Karena itu, kata Yudi, satu-satunya solusi jangka panjang penanggulangan banjir adalah menjaga ekosistem alam agar tetap terjaga. Selain memberangus pembalakan hutan, semua elemen masyarakat juga wajib menjaga lingkungan agar tetap bersih. ‘’Sudah sering kami imbau untuk selalu menjaga sungai di desa-desa agar aliran air lancar dan tidak meluap,’’ ujar dia.

Editor : Indra Gunawan