Sebaliknya, para petani di Blora memilih menjual hasil panen tebunya di luar Kota Blora.
Manurut Sakijo, salah satu petani tebu mengungkapkan, setiap 1 hektare lahan bisa sampai 95 ton, jika sedikit gagal panen masih bisa panen sekitar 70 ton. Sedangkan ketika kondisinya sedang baik, hasil tebu yang bisa dipanen mencapai 105 ton per hektare.
"Saat ini panen cukup baik, tidak tinggi juga tidak kurang," ujarnya usai mengangkat potongan-potongan tebu dari lahan di selatan jalan Cepu-Blora.
Sakijo menjelaskan, panen tebu digunakan untuk suplai pabrik gula di luar daerah, seperti Nganjuk, Kediri, dan Lamongan. Dalam satu kali panen membutuhkan puluhan truk untuk mengangkut, per jumat (7/6) lalu sudah tercatat 17 truk.
"Setiap truknya berisi 7 sampai 8 ton tebu," ungkapnya.
Terkait sudah ada pabrik pengolahan tebu menjadi gula seperti di Kecamatan Todanan, petani pernah kerjasama. Namun, karena beberapa faktor pertimbangan seperti harus panen bersih, kemudian beralih ke parik luar daerah.
"Pemiliknya tidak ingin repot-repot, jadi pilih yang sesuai," tuturnya.
Rajiman, yang juga buruh perkebunan tebu menjelaskan, lahan tebu dengan luas puluhan hektare adalah milik pribadi. Ia hanya bekerja dengan menjadi buruh tebu bisa menghidupi keluarga hingga kuliahkan anak. "Alhamdulillah dari menjadi buruh ini bisa kuliahkan anak," ujarnya saat berada di atas tumpukan tebu yang diangkut truk.
Sebelumnya, dalam rapat paripurna seminggu lalu (4/7) Ketua DPRD Blora M Dasum memerintahkan agar pembangunan infrastruktur jalan di Desa Temurejo menuju Desa Gempolrejo Kecamatan tunjungan untuk mendapatkan perhatian khusus.
"Karena desa tersebut penghasil tebu terbesar di Kecamatan Tunjungan," jelasnya. (luk/msu) Editor : M. Yusuf Purwanto