Daerah Ekonomi Gemas Haji & Umrah Headline News Internasional Kawan Cilik Kesehatan Kuliner Lentera Islam Mbakyu Nasional Opini Otomotif Pendidikan Peristiwa Persepsi Politik & Pemerintahan Redaksi She Sportainment Tausiah Ramadan Teknologi Weekend Wisata Yuk

Satgas MBG Blora Wanti-wanti Porsi Rp 10 Ribu Jangan Dikurangi

Rahul Oscarra Duta • Rabu, 15 Oktober 2025 | 15:45 WIB
JADI PERCONTOHAN: Pegawai dapur SPPG Ngawen saat lakukan pemorsian.
JADI PERCONTOHAN: Pegawai dapur SPPG Ngawen saat lakukan pemorsian.

 

RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM - Permasalahan menu Makan Bergizi Gratis (MBG) selalu menjadi sorotan khalayak umum, begitu juga di Kabupaten Blora. Dalam pantauan Jawa Pos Radar Boionegoro, beberapa waktu lalu ada keluhan terkait kurangnya kualitas menu MBG di Blora. Satgas pun menegaskan larangan pengurangan pada anggaran Rp 10 ribu untuk seporsi MBG.

Ketua Satgas MBG Blora, Sri Setyorini menegaskan, anggaran untuk program MBG harus digunakan sesuai peruntukannya. ‘’Alokasi biaya operasional dan sewa kan sudah ditentukan secara terpisah. Jadi gak perlu ada lain-lain,” jelasnya.

Perempuan yang akrab disapa Bu Dhe Rini itu juga menjelaskan, anggaran makanan yang nantinya diterima oleh penerima manfaat harus benar-benar Rp 10 ribu, yang sesuai dengan ketentuan pusat.

‘’Jadi untuk anggaran sebesar Rp 10 ribu per penerima manfaat itu wajib digunakan sepenuhnya, untuk pembelian bahan makanan dan tanpa ada pengurangan untuk keperluan lainnya,” ujarnya.

Sebelumnya, Koordinator SPPG Blora, Artika Diannita mengatakan, menu yang disajikan ke penerima manfaat harus bervariasi, sesuai dengan aturan yang berlaku.

‘’Sedangkan, aturannya itu menu dijadwalkan 20+2 untuk menghindari kebosanan penerima manfaat,’’ tuturnya. ‘’Jangan selalu sama, sehingga membuat bosan penerima manfaat,” imbuhnya.

Sementara itu, Ahli Gizi SPPG Karangjati 1, Nur Intan menjelaskan, ahli gizi berperan dalam menyajikan makanan yang sehat dan aman. ‘’Ahli gizi bekerja mulai dari perencanaan, bagaimana ahli gizi menyusun standar menu, standar porsi, kemudian pola menu. Lalu juga soal quality control terhadap bahan baku,” imbuhnya.

Dalam proses pemorsian, menurutnya, ahli gizi nantinya menyiapkan golden sample, yaitu contoh porsi makanan yang sudah disesuaikan dengan standar gizi. Dalam sampel tersebut, ahli gizi menentukan takaran yang tepat, seperti jumlah gram nasi, sayur, lauk seperti ayam, serta jumlah potongan buah.

‘’Contoh porsi ini kemudian disampaikan kepada tim pemorsian, sebagai acuan dalam membagi makanan secara merata dan sesuai kebutuhan gizi anak,” terangnya. (hul/ind)

Editor : Yuan Edo Ramadhana