Daerah Ekonomi Gemas Haji & Umrah Headline News Internasional Kawan Cilik Kesehatan Kuliner Lentera Islam Mbakyu Nasional Opini Otomotif Pendidikan Peristiwa Persepsi Politik & Pemerintahan Redaksi She Sportainment Tausiah Ramadan Teknologi Weekend Wisata Yuk

Menengok Korban Tragedi Lift Crane RS PKU Muhammadiyah: Suami Masih Belum Bisa Berjalan, Sang Istri Kesulitan Bayar Iuran Sekolah Anak

Yuan Edo Ramadhana • Selasa, 25 Maret 2025 | 20:57 WIB
CURHAT: Atik, istri Yunus salah satu korban tragedi lift crane RS PKU Muhammadiyah Blora curhat atas kondisi keluarganya yang serba kesulitan. (RAHUL OSCARRA DUTA/RADAR BOJONEGORO)
CURHAT: Atik, istri Yunus salah satu korban tragedi lift crane RS PKU Muhammadiyah Blora curhat atas kondisi keluarganya yang serba kesulitan. (RAHUL OSCARRA DUTA/RADAR BOJONEGORO)

 

RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM - Setelah keluarga Sumar yang curhat mengenai kondisi keluarganya pascatragedi lift crane RS PKU Muhammadiyah Blora, kini keluarga Yunus ikut sambat. Yaitu, Atik, istri Yunus yang menjadi salah satu korban selamat atas insiden tersebut. Salah satu keluhannya, kesulitan bayar iuran sekolah anak tiap bulan.

Hingga saat ini, Atik hanya fokus pada pemulihan Yunus dan biaya anaknya yang masih duduk di bangku madrasah tsanawiyah (MTs). Ia mengaku tak sanggup membayar biaya pendidikan anaknya. ’’Iuran bulanan (sekolah) anak Rp 35.000. Itu saya cicil. Namun, kalau ada uang baru bisa dicicil,” jelas ibu tiga anak tersebut.

Berdasar pantauan Jawa Pos Radar Bojonegoro, mereka hidup dalam rumah yang beralaskan tanah dan dinding terbuat dari papan. Jauh dari kata layak. Saat ini, pun kondisi Yunus belum bisa berjalan normal. Dua kakinya masih berbalut perban tebal perawatan.

Yunus bersama keluarganya hanya pasrah atas musibah yang ia terima. ’’Saya terima saja pak, ya pripun (bagaimana), keadaannya bapaknya ya begini,” terang Atik. ’’Mau mengeluh ke siapa, saya bukan siapa-siapa,” imbuhnya.

Atik mengaku tidak bekerja, sehingga ia hanya mengandalkan penghasilan suaminya. Lalu, ia masih bersyukur, karena gaji suaminya saat bekerja di RS PKU Muhammadiyah Blora masih diberikan setiap minggu. ’’Satu minggunya Rp 480 ribu. Biasanya ditransfer ke anak saya,” jelasnya.

Ia menambahkan, bahwa suaminya masih mendapatkan perawatan yang baik dari pihak RS PKU Muhammadiyah Blora. ’’Setiap dua hari sekali luka suami saya dibersihkan dan dilakukan pemantauan perkembangannya,” jelasnya.

Selanjutnya, Atik mengungkapkan bantuan yang telah ia terima dari pihak PKU maupun Muhammadiyah berupa uang Rp 1 juta, sembako dua kali, dan uang Rp 200 ribu. ’’Totalnya kalau uang itu hanya Rp 1,2 juta saja. Uang Rp 1 juta itu saat kejadian, jadi bisa di buat beli popok dan air di rumah sakit,” kata Atik.

Di sisi lain, Atik menghawatirkan imbas insiden itu kesembuhan total atas cedera yang dialami suaminya akan berlangsung lama. Sehingga, meskipun sudah dipastikan membaik, tapi tidak lagi sekuat sebelumnya. ’’Kalau dilihat hasil operasi tulang, sepertinya fatal. Jadi, sulit kalau balik kayak dulu,” terangnya.

Sebelumnya diberitakan, seluruh korban tragedi lift crane putus pada proyek pembangunan  gedung RS PKU Muhammadiyah Blora masih mendapatkan gaji hingga enam bulan ke depan. Hal itu diungkapkan ketua panitia Pembangunan RS PKU Muhammadiyah Blora, Sugiyanto.

Sugiyanto mengatakan, pihaknya tetap memberi upah penuh per minggu untuk para pekerja yang menjadi korban. ’’Kami tetap memberi upah penuh per minggu untuk mereka para pekerja yang jadi korban. Sampai pekerjaan selesai,” ujarnya.

Ia juga mengatakan, pemberian upah tersebut diberikan kepada seluruh korban. Namun, untuk korban yang meninggal, kata dia, hanya diberikan upah 50 persen hingga proyek tersebut selesai. ’’Untuk keluarga yang ditinggal diberikan upah 50 persen dari gaji harian yang diterima,” tuturnya. (hul/bgs)

Editor : Yuan Edo Ramadhana
#korban selamat #upah #MTs #iuran sekolah #RS PKU Muhammadiyah blora #cedera #RS PKU #muhammadiyah #keluarga #blora #lift crane