BLORA, Radar Bojonegoro - PT Blora Patra Energi (PT BPE) selaku Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) Kabupaten Blora terus menawarkan potensi sumur tua di Lapangan Semanggi. Namun, kesulitan cari investor, karena ada mafia-mafia pada sumur tua tersebut.
’’Persoalannya sejauh ini ada masalah di manajemen. Ada hantu-hantu atau mafia. Kalau ada investor datang dimintai ganti rugi Rp 1 miliar. Karena mengklaim sumur tua itu miliknya,” ucap Komisaris PT BPE Seno kepada Jawa Pos Radar Bojonegoro, Selasa (6/8).
Padahal menurutnya, skema itu tidak ada. Baik di penambang maupun PT BPE. Artinya, ada pihak-pihak tak bertanggung jawab membuat investor sulit masuk ke Lapangan Semanggi. ’’Karena adanya begitu, secara ekonomi membebani investor. Kemudian mereka mundur,” jelasnya.
Hal inilah yang akan coba dia dan tim tangani. Sehingga, investor mudah masuk. Dan, potensi sumur tua bisa digarap maksimal. ’’Kami akan jembatani agar investor ketemu langsung dengan penambang. Sehingga, bisa kerja sama dengan baik. Kemudian, minyaknya bisa diambil, disetorkan ke Pertamina. Dan, output-nya masyarakat sekitar bisa sejahtera,” tambahnya.
Mengingat hanya 6 dari total 72 sumur tua di Lapangan Semanggi yang dikelola dan bisa produksi. Sementara, sisanya mangkrak. Menurutnya, untuk satu sumur tua dibutuhkan dana hanya sekitar ratusan juta. Tak sampai Rp 1 miliar.
Sehingga, ia berharap para investor berbondong-bondong bisa datang ke Blora untuk investasi di sumur tua. Sementara, bila berkaca pada data 2020 lalu yang dirilis Pemkab Blora, produksi di Lapangan Semanggi, pada Januari-Agustus 2020 sebanyak 211.167, 30 liter atau 1.328,10 barel.
Rata-rata produksi per hari 868 liter per hari atau 5 barrels of oil per day (BOPD). ’’Kalau dulu harga minyak sempat anjlok hanya Rp 700. Sekarang ini sampai Rp 5.400. Artinya, ini bisa sangat menguntungkan. Memberikan keuntungan signifikan,” jelasnya.
Sementara itu, salah satu warga setempat yang juga penambang, Suntoro akui memang perlu adanya sentuhan dari investor untuk mengelola sumur tua itu. ’’Dulu 2010-an pernah kami rawat. Namun, memang cost-nya cukup tinggi, sampai jual mobil dan sawah. Setelah itu, kami tinggalkan. Memang perlu ada sentuhan dari investor,” ujarnya.
Ia juga berharap dengan adanya investor ini bisa membantu meningkatkan perekonomian warga setempat dan membuka lapangan pekerjaan. ’’Kalau (sumur tua) hidup nanti kan kami juga yang senang. Entah berapa persenannya yang penting sama-sama untung,” jelasnya. (hul/bgs)
Editor : Hakam Alghivari