Sabar, salah satu buruh tani tebu mengungkapkan, harga tebu saat ini mencapai Rp 120 ribu per kuintal. Namun, harga itu tidak pasti karena sering berubah-ubah. Ditengarai karena persaingan. Itu menjadi alasan pemilik kebun tebu menjualnya ke luar daerah. ‘’Harga tebu biasanya tidak pasti, berubah-ubah. Yang siap beli tinggi, itu yang dipilih,’’ katanya.
Humas PT Gendhis Multi Manis Gito menjelaskan, penyerapan tebu di pabriknya meliputi 8 pos pabarik. Di Blora ada tiga pabrik. Di Todanan, Cepu, dan Kradenan.
Gito menjelaskan, harga tebu terus berubah. Saat ini harganya tercatat Rp 67 ribu per kuintal.
‘’Kalau harga tebu itu kan fluktuatif, terus berubah. Sehingga kami belinya dengan harga menyesuaikan pasar,’’ ungkanya.
Gito mengungkapkan, serapan tebu tahun lalu sekitar 70 persen dari target penyerapan 400 ribu ton. Itu dipengaruhi kondisi cuaca yang tidak menentu dan curah hujan yang cukup tinggi. ‘’Sehingga penyerapan kami juga tidak maksimal. Kendalanya di cuaca," tuturnya.
Kepala Dinas Pangan Pertanian Peternakan dan Perikanan (DP4) Blora Gundala Wejasena meminta pabrik gula di Blora menyerap tebu petani dengan baik. Sehingga, petani Blora bisa merasakan keberadaan PT GMM.
"Kami harapkan PT GMM operasional dengan baik dan lancar. Serta dapat menyerap semua tebu di Blora agar tebu tidak keluar dari Blora,’’ terangnya. (luk/zim) Editor : M. Yusuf Purwanto