Daerah Ekonomi Gemas Haji & Umrah Headline News Internasional Kawan Cilik Kesehatan Kuliner Lentera Islam Mbakyu Nasional Opini Otomotif Pendidikan Peristiwa Persepsi Politik & Pemerintahan Redaksi She Sportainment Tausiah Ramadan Teknologi Weekend Yuk

Sensasi Oseng Kepompong Ulat Jati

M. Yusuf Purwanto • Kamis, 8 Desember 2022 | 18:58 WIB
KULINEKULINER MUSIMAN: Seorang pengunjung melihat kuliner ungker-ungker yang sudah dikemas. Olahan oseng ini khas masakan Blora. (Lukman Hakim/RDR.BLORA)
KULINEKULINER MUSIMAN: Seorang pengunjung melihat kuliner ungker-ungker yang sudah dikemas. Olahan oseng ini khas masakan Blora. (Lukman Hakim/RDR.BLORA)
BEGITU melihat masakan ungker-ungker, Ernita seketika tertarik untuk mencicipi. Kuliner berupa olahan dari kepompong ulat yang dioseng itu begitu menggoda lidah. Hanya, kuliner dioseng tersebut hanya bisa ditemukan pada hari-hari tertentu.

 

Gurih dan kaya protein melekat pada kuliner khas Blora tersebut. “Karena saya orang asli Blora, ungker-ungker itu makanan langka yang adanya setahun sekali," tutur Ernita ditemui di lokasi Festival Kuliner Tradisional di Alun-Alun Blora kemarin (7/12).

 

Itulah menjadi alasan Ernita membeli dan mencicipinya langsung di tempat. Selain sulit ditemukan, rasa gurih dari kepompong ulat jati itu menjadi magnet dirinya seketika membeli. Ernita mengaku sudah menjadi penikmat ungker-ngker sejak kecil. Begitu pula keluarganya telah terbiasa makan makanan ekstrem tersebut.

 

"Ini kan karena langka ya, mumpung ada ungker makanya saya harus beli, untuk tombo pengin (untuk obat kangen)," tuturnya kepada Jawa Pos Radar Blora.

 

Sementara itu, Wuri salah satu penjual ungker-ungker dari Kecamatan Randublatung mengaku proses pencarian ungker-ungker cukup sulit. Perlu masuk hutan dan mencari di bawah tanah pohon jati.

 

“Pembuatannya tidak begitu susah. Tapi mencarinya sulit  karena mencarinya harus ke hutan. Sebelum bisa dimakan seperti ini belepot dengan tanah, jadi kami harus memilihi dulu,” terangnya.

Menurutnya, keberadaan ungker-ungker masih banyak ditemukan di hutang Randublatung-Doplang. Selain di hutan itu, sejauh pengamatannya tidak bisa ditemukan. Apalagi, populasi ungker-ungker tergantung musim. Jika musim hujan terlalu tinggi akan jarang ditemui.

 

“Itupun tidak setiap musim. Tidak semua hutan ada,” jelasnya.

Wuri mengaku masyarakat sekitar Randublatung mencari ungker ketika pagi dan sore. Setelah terkumpul, ia membelinya satu wadah ukuran gelas kecil dengan Rp 30 ribu. (luk/rij) Editor : M. Yusuf Purwanto
#kuliner #Oseng Ulat Jati #Camilan Khas Blora #Festival Kuliner Tradisional #mbangun blora #blora