Gurih dan kaya protein melekat pada kuliner khas Blora tersebut. “Karena saya orang asli Blora, ungker-ungker itu makanan langka yang adanya setahun sekali," tutur Ernita ditemui di lokasi Festival Kuliner Tradisional di Alun-Alun Blora kemarin (7/12).
Itulah menjadi alasan Ernita membeli dan mencicipinya langsung di tempat. Selain sulit ditemukan, rasa gurih dari kepompong ulat jati itu menjadi magnet dirinya seketika membeli. Ernita mengaku sudah menjadi penikmat ungker-ngker sejak kecil. Begitu pula keluarganya telah terbiasa makan makanan ekstrem tersebut.
"Ini kan karena langka ya, mumpung ada ungker makanya saya harus beli, untuk tombo pengin (untuk obat kangen)," tuturnya kepada Jawa Pos Radar Blora.
Sementara itu, Wuri salah satu penjual ungker-ungker dari Kecamatan Randublatung mengaku proses pencarian ungker-ungker cukup sulit. Perlu masuk hutan dan mencari di bawah tanah pohon jati.
“Pembuatannya tidak begitu susah. Tapi mencarinya sulit karena mencarinya harus ke hutan. Sebelum bisa dimakan seperti ini belepot dengan tanah, jadi kami harus memilihi dulu,” terangnya.
Menurutnya, keberadaan ungker-ungker masih banyak ditemukan di hutang Randublatung-Doplang. Selain di hutan itu, sejauh pengamatannya tidak bisa ditemukan. Apalagi, populasi ungker-ungker tergantung musim. Jika musim hujan terlalu tinggi akan jarang ditemui.
“Itupun tidak setiap musim. Tidak semua hutan ada,” jelasnya.
Wuri mengaku masyarakat sekitar Randublatung mencari ungker ketika pagi dan sore. Setelah terkumpul, ia membelinya satu wadah ukuran gelas kecil dengan Rp 30 ribu. (luk/rij) Editor : M. Yusuf Purwanto