"Mobil tangki pengirimannya rusak. Jadi suplai pertalite dari pagi hingga sore kosong. Pagi mobil masih dibengkel, akhirnya gak bisa jualan. Sore ini sudah sampai," ujar Nur Halim supervisor SPBU Sambong kemarin (2/9).
Halim menjelaskan, suplai BBM dari Terminal Bahan Bakar Minyak (TBBM) Tuban, masih lancar. Kiriman sesuai permintaan, saat ini pihaknya meminta 24 kiloliter (kl) hanya dikirim 16 kl. Sebelumnya BBM jenis pertalite pengirimannya dikitir, pihaknya mendapat jatah 16 kl.
Menurutnya, pembeli mengantre semenjak ada isu kenaikan BBM bersubsidi. Padahal, pemerintah belum menaikkan harga pertalite dan solar. Dan kepanikan konsumen ini juga terjadi di beberapa SPBU. "Jadi tidak hanya di sini (SPBU Sambong) kelihatanya semua SPBU sama," jelasnya.
Hal sama diungkapkan Eko Djulianto yang menjelaskan, kebijakan pembelian menggunakan MyPertamina ditengarai berdampak pembelian BBM antre. Pembelian butuh proses scan barcode QR. Terkadang pembeli harus mengulang scan agar bisa jelas terbaca sistem.
"Kami punya grup koordinasi semua SPBU di wilayah mengalami hal sama, antrean panjang," ungkapnya.
Menurut Eko, pengiriman masih lancar, sebelumnya permintaan BBM pernah dikitir, diplot masing-masing SPBU. Saat ini bisa lebih flekaibel. (luk/rij) Editor : M. Yusuf Purwanto