Seperti dialami Prihatin, pedagang gorengan di sekitar Taman Seribu Lampu ini. Ia mengaku harus tetap berjualan meski tidak memperoleh keuntungan. "Uang hanya cukup untuk membeli bahan lagi. Berputar lagi. Tidak sampai untung seperti sebelumnya," keluhnya kepada Jawa Pos Radar Bojonegoro kemarin (21/2).
Ia mengaku hasil penjualan terserap lebih besar untuk pembelian minyak goreng (migor) kemasan. Dengan harga Rp 25 ribu per liter bagi pedagang gorengan tentu dirasa mahal. Sebelumnya para pedagang menggunakan minyak goreng curah. "Ya terpaksa beli kemasan dengan harga mahal, yang minyak curah sulit sekali," jelasnya.
Dalam satu hari, biasanya produksi gorengannya butuh 8 kilogram minyak curah. Dengan harga Rp 200 ribu. Paling banyak 16 kilogram dengan harga Rp 400 ribu. Berpindah membeli minyak goreng kemasan menjadi dilema bagi pedagang.
Menurut Prihatin, perpindahan dari minyak curah ke kemasan berdampak ukuran gorengan. Dirinya menyiasati memperkecil ukuran dengan harga tetap yakni Rp 7.000 mendapatkan 10 gorengan. "Saya pesan tahu pun berbeda dengan sebelumnya, semakin ringan dan ukuran semakin kecil," jelasnya.
Kepala Dinas Perdagangan Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (Kadindagkop-Ukm) Blora Luluk Kusuma mengimbau penjualan minyak goreng kemasan sesuai harga eceran tertinggi (HET). Terkait penjual minyak membeli sebelum ditentukan harga Rp 400 ribu, pihaknya telah berkoordinasi dengan kementerian dan beberapa toko.
"Untuk distributor sudah mendapatkan subsidi tentu sudah bisa menjual dengan harga Rp 14 ribu. Sedangkan yang belum segera ditindaklanjuti dan koordinasi dengan Kemendag,” jelasnya. (luk/rij) Editor : M. Yusuf Purwanto