Daerah Ekonomi Gemas Haji & Umrah Headline News Internasional Kawan Cilik Kesehatan Kuliner Lentera Islam Mbakyu Nasional Opini Otomotif Pendidikan Peristiwa Persepsi Politik & Pemerintahan Redaksi She Sportainment Tausiah Ramadan Teknologi Weekend Wisata Yuk

KNKT Jelaskan Penyebab Jatuhnya Pesawat ATR Milik KKP: Tidak Hilang Kendali, Namun Tabrak Bukit

Yuan Edo Ramadhana • Minggu, 18 Januari 2026 | 16:47 WIB
(Dok. BPBD Makassar)
(Dok. BPBD Makassar)

 

RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM – Usai pesawat ATR 42-500 yang dibawa oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) ditemukan jatuh di wilayah Gunung Bulusaraung turut Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan pada Sabtu sore (17/1), Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) mengeluarkan hasil penelitian dan temuan awal dari kasus tersebut pada Minggu (18/1). Sementara ini, KNKT menyimpulkan kecelakaan tersebut merupakan hasil dari ketidaksengajaan.

Namun, bukan berarti pesawat yang dipinjam oleh KKP dari Indonesia Air Transport tersebut hilang kendali. Menurut Kepala KNKT Soerjanto Tjahjono, kecelakaan tersebut secara teknis kecelakaan dapat dihindari jika tidak ada faktor halangan lain.

“Kejadian ini kita namakan CFIT, controlled flight into terrain. Jadi memang pesawat nabrak bukit atau lereng sehingga terjadi beberapa pecahan akibat benturan,” jelas Soerjanto kepada awak media nasional, sebagaimana dilaporkan oleh Jawa Pos.

Sebagaimana telah dijelaskan, baik pesawat maupun pilot masih dalam keadaan baik secara teknis, sehingga pesawat masih dapat dikendalikan. Namun, ada faktor penyebab eksternal yang menyebabkan pilot tidak dapat menghindarkan pesawat dari kecelakaan, sehingga dikategorikan sebagai CFIT.

“Pesawatnya bisa dikontrol oleh penerbangnya, tapi menabrak bukan sengaja. Kendali pesawat tidak bermasalah, istilahnya CFIT tadi. amun, karena suatu hal, pesawatnya menabrak bukit, ” tegas Soerjanto.

Pun demikian, KNKT masih mendalami penyebab mengapa pesawat ATR tersebut menabrak bukit. Terlebih tim investigasi baru memasuki tahap awal penyelidikan kecelakaan pesawat.

“Itu yang akan dicari tahu. Yang jelas, dipastikan pesawat menabrak bukit dengan kondisi yang ada. Dengan berbagai kondisi, kita belum tahu detailnya, tetapi faktanya pesawat menabrak bukit,” ujar Soerjanto.

Disinggung mengenai cuaca, Soerjanto meyakini hal tersebut tidak banyak memengaruhi penyebab kecelakaan tersebut, terlebih dengan ekspektasi pilot dapat menghindar dari cuaca buruk demi visilibitas. Selain itu, pesawat modern juga mayoritas sudah dilengkapi dengan peringatan cuaca.

“Kalau cuaca memang sudah takdir dari Yang Maha Kuasa. Manusia sudah diberi pengetahuan bagaimana mengendalikan penerbangan, mau terbang ke situ atau menghindar. Teknologinya bisa mengatasi cuaca. Jadi kalau masalah cuaca, saya rasa tidak,” paparnya.

Berkaitan hal tersebut, menurut Direktur Jenderal Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan (Kemenhub) Lukman F. Laisa, cuaca saat kejadian tergolong baik, dan pilot memiliki jarak pandang relatif normal.

"Informasi awal terkait kondisi cuaca pada saat kejadian menunjukkan jarak pandang sekitar 8 kilometer, dengan kondisi cuaca di sekitar area dilaporkan sedikit berawan,” paparnya dalam rilis kementerian pada Sabtu.

Sebagai catatan samping, dalam klasifikasi Asosiasi Penerbangan Internasional (IATA) dan Badan Penerbangan Sipil PBB (ICAO), kecelakaan yang disebabkan oleh hilangnya kendali akibat kerusakan instrumen pesawat memiliki istilah yang berbeda, yakni loss of control in flight (LOC-I). Sementara jika dari hasil penyelidikan pilot diketahui memang melakukan kesalahan kendali dan bukan navigasi saat menerbangkan pesawat, barulah kecelakaan diklasifikasikan sebagai kesalahan pilot (pilot error).

Contoh kasus LOC-I yang pernah terjadi di Indonesia adalah kecelakaan pesawat Lion Air 610 pada 2018 silam, yang terjadi karena kesalahan teknis pada komputer sistem kendali pesawat yang menahan pesawat hingga gagal lepas landas. Kesalahan pada komputer tersebut juga menyebabkan pesawat yang dipakai, Boeing 737 MAX sempat dilarang terbang di berbagai belahan dunia. (edo)

Editor : Yuan Edo Ramadhana
#kkp #pesawat #kementerian kelautan dan perikanan #kecelakaan pesawat #ATR #Transportasi #kecelakaan #Soerjanto Tjahjono #knkt #ATR 42-500 #pesawat ATR