RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM - Setiap tahun, Bumi mengelilingi Matahari dalam orbit berbentuk elips. Ini berarti ada saatnya Bumi berada paling dekat dengan Matahari (disebut perihelion) dan saatnya Bumi berada paling jauh dari Matahari (disebut aphelion). Fenomena aphelion ini seringkali menimbulkan pertanyaan, terutama terkait dampaknya terhadap cuaca dan suhu di Bumi, termasuk di Indonesia.
Apa Itu Aphelion?
Aphelion berasal dari kata Yunani "apo" (jauh dari) dan "helios" (Matahari), yang secara harfiah berarti "jauh dari Matahari". Aphelion adalah titik terjauh Bumi dari Matahari dalam orbit tahunannya. Pada saat aphelion, jarak Bumi ke Matahari sekitar 152,1 juta kilometer. Sebagai perbandingan, saat perihelion (titik terdekat), jaraknya sekitar 147,1 juta kilometer.
Fenomena aphelion biasanya terjadi sekitar awal bulan Juli setiap tahun. Perlu dicatat bahwa terjadinya aphelion tidak berkaitan langsung dengan perubahan musim. Musim di Bumi disebabkan oleh kemiringan sumbu rotasi Bumi relatif terhadap bidang orbitnya, bukan karena jarak Bumi ke Matahari.
Dampak Aphelion di Indonesia
Meskipun Bumi berada pada jarak terjauh dari Matahari saat aphelion, dampak langsung aphelion terhadap suhu di Indonesia tidak signifikan dan seringkali disalahartikan.
1. Intensitas Radiasi Mataharai :Memang benar bahwa saat aphelion, intensitas radiasi Matahari yang diterima Bumi sedikit berkurang karena jarak yang lebih jauh. Namun, penurunan intensitas ini hanya sekitar 3,5% hingga 7% dan tidak cukup besar untuk menyebabkan penurunan suhu drastis atau ekstrem.
2. Musim Kemarau dan Angin Muson: Penurunan suhu yang sering dirasakan di Indonesia pada bulan Juli (bertepatan dengan aphelion) lebih disebabkan oleh faktor angin muson timur yang bertiup dari Australia. Angin ini membawa massa udara yang lebih kering dan dingin dari benua Australia yang sedang mengalami musim dingin.
Akibatnya, sebagian besar wilayah Indonesia, terutama Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara, mengalami musim kemarau dengan ditandai oleh penurunan suhu, terutama pada malam hari, dan udara yang terasa lebih dingin dan kering. Inilah mengapa pagi hari di musim kemarau sering terasa sangat sejuk, bahkan dingin, di beberapa daerah.
3. Faktor Lokal: Kondisi geografis dan ketinggian suatu daerah juga berperan penting dalam menentukan suhu. Daerah dataran tinggi akan cenderung lebih dingin daripada dataran rendah, terlepas dari fenomena aphelion.
Jadi, meskipun aphelion adalah fenomena astronomis yang menarik, penurunan suhu yang dirasakan di Indonesia pada bulan Juli sebagian besar adalah hasil dari pola angin muson dan musim kemarau, bukan karena efek langsung dan signifikan dari aphelion itu sendiri.
Apa yang Harus Kita Lakukan untuk Menghadapinya?
Karena aphelion tidak menimbulkan dampak signifikan yang perlu dikhawatirkan secara khusus, persiapan yang perlu dilakukan lebih berkaitan dengan menghadapi musim kemarau yang sering terjadi bersamaan:
- Jaga Kesehatan dan Hidrasi: Meskipun suhu mungkin terasa dingin di malam hari, cuaca cenderung lebih kering. Pastikan untuk minum cukup air agar tidak dehidrasi.
- Gunakan Pakaian yang Tepat: Kenakan pakaian yang nyaman dan sesuai dengan kondisi suhu. Jaket atau selimut tambahan mungkin diperlukan saat malam hari atau di daerah dataran tinggi.
- Lindungi Kulit: Udara kering dapat membuat kulit lebih mudah kering atau pecah-pecah. Gunakan pelembap untuk menjaga kelembaban kulit.
- Waspada Bencana Musim Kemarau: Musim kemarau meningkatkan risiko kekeringan dan kebakaran hutan/lahan. Hemat penggunaan air dan hindari aktivitas yang dapat memicu kebakaran. (*)